Peringatan Baru IMF, 5 Tahun ke Depan Ekonomi Dunia Akan Semakin Sulit
Jum'at, 07 April 2023 - 10:34 WIB
Dia menyerukan negara-negara kaya untuk meningkatkan dana IMF untuk memberikan pinjaman berbiaya rendah ke negara-negara yang membutuhkan. Organisasi ini bersiap menghadapi gelombang permintaan bantuan atau restrukturisasi utang, karena guncangan dari krisis Covid-19, perang di Ukraina, dan terus melonjaknya biaya hidup.
Tahun lalu, pertumbuhan global turun hampir setengahnya menjadi 3,4%, menyusul lonjakan pascapandemi pada 2021. Itu di bawah pertumbuhan rata-rata 3,8% dalam dua dekade terakhir.
Perlambatan terus berlanjut tahun ini, meskipun pasar kerja yang kuat di negara-negara seperti Amerika Serikat (AS). Pihaknya memperkirakan pertumbuhan turun di bawah 3% pada 2023, dengan India dan China menyumbang lebih dari setengah pertumbuhan.
Kristalina mengatakan sekitar 90% ekonomi maju diperkirakan mengalami penurunan pertumbuhan, yang mencerminkan beban biaya pinjaman yang lebih tinggi setelah bank sentral menaikkan suku bunga secara tajam untuk menstabilkan harga yang melonjak. Bagi negara-negara berpenghasilan rendah, biaya pinjaman yang lebih tinggi datang pada saat melemahnya permintaan ekspor mereka.
"Itu adalah pukulan telak, membuat negara-negara berpenghasilan rendah semakin sulit untuk mengejar ketinggalan," ujar Georgieva. "Kemiskinan dan kelaparan bisa semakin meningkat, tren berbahaya yang dimulai dari krisis Covid," tambahnya.
Tahun lalu, pertumbuhan global turun hampir setengahnya menjadi 3,4%, menyusul lonjakan pascapandemi pada 2021. Itu di bawah pertumbuhan rata-rata 3,8% dalam dua dekade terakhir.
Perlambatan terus berlanjut tahun ini, meskipun pasar kerja yang kuat di negara-negara seperti Amerika Serikat (AS). Pihaknya memperkirakan pertumbuhan turun di bawah 3% pada 2023, dengan India dan China menyumbang lebih dari setengah pertumbuhan.
Kristalina mengatakan sekitar 90% ekonomi maju diperkirakan mengalami penurunan pertumbuhan, yang mencerminkan beban biaya pinjaman yang lebih tinggi setelah bank sentral menaikkan suku bunga secara tajam untuk menstabilkan harga yang melonjak. Bagi negara-negara berpenghasilan rendah, biaya pinjaman yang lebih tinggi datang pada saat melemahnya permintaan ekspor mereka.
"Itu adalah pukulan telak, membuat negara-negara berpenghasilan rendah semakin sulit untuk mengejar ketinggalan," ujar Georgieva. "Kemiskinan dan kelaparan bisa semakin meningkat, tren berbahaya yang dimulai dari krisis Covid," tambahnya.
Lihat Juga :