Ekonom Prediksi Suku Bunga Acuan Bakal Ditahan 4,5%
Selasa, 14 April 2020 - 13:07 WIB
Pasalnya, volatilitas nilai tukar rupiah secara rata-rata menurun yang terindikasi dari one-month implied volatility yang meningkat menjadi 26% dalam 3 minggu terakhir. Di tengah volatilitas rupiah yang meningkat tersebut, nilai tukar rupiah tercatat terdepresiasi sekitar 13% (year to date/ytd), dan merupakan nilai tukar yang mengalami depresiasi terbesar di kawasan Asia secara tahun kalender.
"Sehingga, suku bunga acuan BI saat ini di level 4,5% diperkirakan akan dapat membatasi capital flight dari pasar keuangan domestik dalam jangka pendek ini," bebernya.
Dia menambahkan, di tengah masa pandemi Covid-19 yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, maka respons kebijakan yang perlu diprioritaskan adalah kebijakan dalam rangka mengatasi krisis kesehatan yakni dengan menangani gangguan kesehatan dan menjaga keselamaan jiwa. Selanjutnya, menjaga konsumsi masyarakat terutama miskin dan rentan dengan segera menyalurkan social safety net yang akan menjaga daya beli masyarakat khususnya pekerja di sektor informal yang terkena dampak sangat signfikan dari penurunan aktivitas ekonomi.
"Kebijakan-kebijakan seperti itulah yang cenderung akan efektif dan produktif di tengah masa pandemi Covid-19 ini," tandasnya.
"Sehingga, suku bunga acuan BI saat ini di level 4,5% diperkirakan akan dapat membatasi capital flight dari pasar keuangan domestik dalam jangka pendek ini," bebernya.
Dia menambahkan, di tengah masa pandemi Covid-19 yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, maka respons kebijakan yang perlu diprioritaskan adalah kebijakan dalam rangka mengatasi krisis kesehatan yakni dengan menangani gangguan kesehatan dan menjaga keselamaan jiwa. Selanjutnya, menjaga konsumsi masyarakat terutama miskin dan rentan dengan segera menyalurkan social safety net yang akan menjaga daya beli masyarakat khususnya pekerja di sektor informal yang terkena dampak sangat signfikan dari penurunan aktivitas ekonomi.
"Kebijakan-kebijakan seperti itulah yang cenderung akan efektif dan produktif di tengah masa pandemi Covid-19 ini," tandasnya.
(fai)
Lihat Juga :