Pegawai Garuda 'Dipaksa' Pensiun Dini, Dirut: Alhamdulillah Ada 400 Lebih
Jum'at, 24 Juli 2020 - 11:40 WIB
Irfan menjelaskan, tidak banyak yang dapat dilakukan dalam kondisi pandemi Covid-19 yang memberi efek negatif pada aspek finansial maskapai penerbangan, termasuk Garuda. Di satu sisi, perseroan harus mengeluarkan dana untuk membayar karyawan. Sedangkan di lain sisi, income perusahaan menurun drastis.
(Baca Juga: Dirut Garuda Indonesia: Perang Aja Kita Terbang, Mestinya Saat Pandemi Juga )
Dengan kondisi seperti itu, langkah efisiensi yang diambil manajemen Garuda Indonesia adalah dengan merumahkan sejumlah pegawai dan menawarkan pensiun dini.
"Yang bisa menyelamatkan Garuda atau recovery adalah penumpang, pemerintah yang membantu dana itu hanya bersifat sementara, yang recovery itu memang penumpang. Ini yang kita pastikan," ungkapnya.
Untuk diketahui, selain menawarkan pensiun dini, Garuda Indonesia juga melakukan pemotongan gaji 10 hingga 50%, baik dari level staf, jajaran direksi maupun komersial, di mana semakin tinggi jabatannya pemotongan gaji (take home pay) semakin besar.
(Baca Juga: Dirut Garuda Indonesia: Perang Aja Kita Terbang, Mestinya Saat Pandemi Juga )
Dengan kondisi seperti itu, langkah efisiensi yang diambil manajemen Garuda Indonesia adalah dengan merumahkan sejumlah pegawai dan menawarkan pensiun dini.
"Yang bisa menyelamatkan Garuda atau recovery adalah penumpang, pemerintah yang membantu dana itu hanya bersifat sementara, yang recovery itu memang penumpang. Ini yang kita pastikan," ungkapnya.
Untuk diketahui, selain menawarkan pensiun dini, Garuda Indonesia juga melakukan pemotongan gaji 10 hingga 50%, baik dari level staf, jajaran direksi maupun komersial, di mana semakin tinggi jabatannya pemotongan gaji (take home pay) semakin besar.
Lihat Juga :