Eropa Gunakan Isu Deforestasi untuk Kendalikan Harga Sawit
Kamis, 24 Agustus 2023 - 07:29 WIB
Eugenia berujar, upaya membangun industri sawit tidak cukup hanya dengan mengendalikan pasokan saja. Maka itu Indonesia harus menguasai pasar keuangan sawit yang mapan dan mendukung iklim usaha industri sawit hingga dapat mengalahkan Belanda dan Malaysia.
"Semakin maju pasar keuangan atau bursa sawit Indonesia, Eropa (Belanda) semakin kehilangan kekuatan untuk mengendalikan harga," kata dia. "Yang jelas, beberapa dampak yang akan terjadi sebagai buntut penerapan regulasi itu (EUDR), di antaranya adalah penurunan permintaan minyak sawit," sambungnya.
Masih menurut Eugenia, penurunan permintaan dapat mengakibatkan penurunan harga sawit dan meningkatkan harga minyak nabati lainnya. Ekspor Indonesia dan potensi pendapatan dari pasar minyak sawit pun terpengaruh. "Dampak berikutnya adalah penyesuaian pasokan. Jika permintaan dari Uni Eropa menurun, produsen dan eksportir sawit Indonesia harus menyesuaikan produksi dan pasokan," tukasnya.
Baca Juga: Bos Wagner Prigozhin Dilaporkan Tewas Kecelakaan Pesawat, Diduga Dihabisi Putin
Setali tiga uang, tekanan Eropa terhadap sawit Indonesia juga diakui Mukhamad Faisol Amir dari Centre for Indonesian Policy Studies (CIPS). Menurutnya, minyak sawit menjadi satu-satunya minyak nabati yang di take-out dari renewable energy oleh Uni Eropa. “Mereka tidak memasukkan sawit sebagai minyak nabati yang direkomendasikan untuk digunakan dalam memproduksi biofuel,” katanya.
"Semakin maju pasar keuangan atau bursa sawit Indonesia, Eropa (Belanda) semakin kehilangan kekuatan untuk mengendalikan harga," kata dia. "Yang jelas, beberapa dampak yang akan terjadi sebagai buntut penerapan regulasi itu (EUDR), di antaranya adalah penurunan permintaan minyak sawit," sambungnya.
Masih menurut Eugenia, penurunan permintaan dapat mengakibatkan penurunan harga sawit dan meningkatkan harga minyak nabati lainnya. Ekspor Indonesia dan potensi pendapatan dari pasar minyak sawit pun terpengaruh. "Dampak berikutnya adalah penyesuaian pasokan. Jika permintaan dari Uni Eropa menurun, produsen dan eksportir sawit Indonesia harus menyesuaikan produksi dan pasokan," tukasnya.
Baca Juga: Bos Wagner Prigozhin Dilaporkan Tewas Kecelakaan Pesawat, Diduga Dihabisi Putin
Setali tiga uang, tekanan Eropa terhadap sawit Indonesia juga diakui Mukhamad Faisol Amir dari Centre for Indonesian Policy Studies (CIPS). Menurutnya, minyak sawit menjadi satu-satunya minyak nabati yang di take-out dari renewable energy oleh Uni Eropa. “Mereka tidak memasukkan sawit sebagai minyak nabati yang direkomendasikan untuk digunakan dalam memproduksi biofuel,” katanya.
Lihat Juga :