Rusia Blokade Laut Hitam, Begini Cara Ukraina Lanjutkan Ekspor Biji-bijian
Senin, 02 Oktober 2023 - 11:33 WIB
Hampir 33 juta ton biji-bijian dikirim dari Ukraina di bawah kesepakatan tersebut, dan harga pangan dunia turun sekitar 20%, menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB. Namun, harga biji-bijian dunia kembali naik setelah Rusia menarik diri dari kesepakatan tersebut.
Apa yang telah terjadi sejak kesepakatan biji-bijian berakhir?
Kesepakatan biji-bijian berakhir pada tanggal 17 Juli. Sejak saat itu, Rusia telah melancarkan serangkaian serangan udara ke pelabuhan-pelabuhan Laut Hitam Ukraina, menghancurkan ribuan ton biji-bijian. Menyitir BBC, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa mereka menganggap semua kapal kargo di Laut Hitam yang menuju Ukraina sebagai target militer potensial. Hal ini telah menghalangi sebagian besar kapal biji-bijian.
Sebagai salah satu arsitek kesepakatan biji-bijian, Turki telah mencoba membujuk Rusia untuk bergabung kembali. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa negara-negara Barat pertama-tama harus melonggarkan sanksi-sanksi terhadap ekspor Rusia.
Mengapa Rusia menolak untuk memperbarui kesepakatan biji-bijian?
Ketika PBB menengahi kesepakatan tersebut, mereka mengatakan kepada Rusia bahwa hal itu akan membantu meningkatkan ekspor biji-bijian dan pupuk negara tersebut. Negara-negara Barat belum memberlakukan sanksi khusus terhadap produk pertanian Rusia, tetapi Moskow mengatakan bahwa pembatasan yang lebih luas yang diberlakukan telah menghalangi perusahaan pelayaran, bank internasional, dan perusahaan asuransi untuk bertransaksi dengan para produsennya.
Rusia meminta agar bank pertanian milik negara, Rosselkhozbank, dihubungkan kembali ke sistem pembayaran cepat Swift (yang dilarang digunakan oleh semua bank Rusia pada Juni 2022). PBB menyarankan agar Rusia mendirikan anak perusahaan yang akan diizinkan untuk menggunakan Swift - tetapi Rusia menolak rencana tersebut.
Apa yang telah terjadi sejak kesepakatan biji-bijian berakhir?
Kesepakatan biji-bijian berakhir pada tanggal 17 Juli. Sejak saat itu, Rusia telah melancarkan serangkaian serangan udara ke pelabuhan-pelabuhan Laut Hitam Ukraina, menghancurkan ribuan ton biji-bijian. Menyitir BBC, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa mereka menganggap semua kapal kargo di Laut Hitam yang menuju Ukraina sebagai target militer potensial. Hal ini telah menghalangi sebagian besar kapal biji-bijian.
Sebagai salah satu arsitek kesepakatan biji-bijian, Turki telah mencoba membujuk Rusia untuk bergabung kembali. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa negara-negara Barat pertama-tama harus melonggarkan sanksi-sanksi terhadap ekspor Rusia.
Mengapa Rusia menolak untuk memperbarui kesepakatan biji-bijian?
Ketika PBB menengahi kesepakatan tersebut, mereka mengatakan kepada Rusia bahwa hal itu akan membantu meningkatkan ekspor biji-bijian dan pupuk negara tersebut. Negara-negara Barat belum memberlakukan sanksi khusus terhadap produk pertanian Rusia, tetapi Moskow mengatakan bahwa pembatasan yang lebih luas yang diberlakukan telah menghalangi perusahaan pelayaran, bank internasional, dan perusahaan asuransi untuk bertransaksi dengan para produsennya.
Rusia meminta agar bank pertanian milik negara, Rosselkhozbank, dihubungkan kembali ke sistem pembayaran cepat Swift (yang dilarang digunakan oleh semua bank Rusia pada Juni 2022). PBB menyarankan agar Rusia mendirikan anak perusahaan yang akan diizinkan untuk menggunakan Swift - tetapi Rusia menolak rencana tersebut.
Lihat Juga :