Lonjakan Inflasi Hantam Rusia, Bank Sentral Naikkan Suku Bunga Jadi 15%

Minggu, 29 Oktober 2023 - 20:50 WIB
Sebelumnya Kremlin menyerukan kebijakan moneter yang lebih ketat, ketika rubel jatuh melewati 100 terhadap dolar Amerika Serikat (USD). "Tekanan inflasi saat ini telah meningkat secara signifikan di atas ekspektasi Bank Rusia," katanya pada hari Jumat.

Permintaan barang dan jasa melampaui pasokan, dan dikatakan ada pertumbuhan pinjaman yang tinggi. Gangguan rantai pasokan selama pandemi virus corona membantu mendorong kenaikan harga, kemudian invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 mengganggu pasokan pangan global dan menaikkan biaya energi.

Inflasi harga pangan dan energi telah menjadi faktor utama dalam mendorong kenaikan harga secara umum di seluruh dunia. Tekanan juga meningkat pada ekonomi Rusia, karena laju impor melesat lebih cepat daripada ekspor dan pengeluaran militer terus tumbuh imbas perang Ukraina.

Sementara iru Rusia terus menjadi sasaran sanksi Barat sebagai respons atas serangannya ke Ukraina. Mata uang, Rubel anjlok setelah perang pertama kali pecah, tetapi didukung oleh kontrol modal dan ekspor minyak dan gas.

Namun, mata uang tersebut telah kehilangan sekitar seperempat nilainya secara keseluruhan terhadap dolar AS sejak konflik di Ukraina dimulai.

Ini bukan pertama kalinya Bank Rusia menaikkan suku bunga secara tajam. Ketika Rusia pertama kali menyerang Ukraina, bank menaikkan suku bunga dari 9,5% menjadi 20%, tetapi tak lama kemudian mulai memangkasnya kembali.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!