Jodohkan BUMN Penerbangan dengan Pariwisata, Maunya Jokowi Apa?
Rabu, 12 Agustus 2020 - 13:03 WIB
Alvin mengatakan, langkah holding antara maskapai penerbangan plat merah dengan pariwisata justru dikhawatirkan akan salah arah. Dia bilang kalau pun Kepala Negara bertujuan meningkatkan daya tarik pariwisata pasca pandemi Covid-19 seharusnya regulasi dan program kerja pemerintah yang dimaksimalkan.
Bahkan dia menilai sektor pariwisata bukan hanya dikelola BUMN, tapi ada banyak peran dari pihak swasta. Karena itu, kata dia, ada banyak hal yang harus dipertinbangkan sebelum langkah penggabungan kedua sektor itu dilakukan.
"Ekosistem pariwisata ini tidak hanya transportasi tapi banyak sekali. Nah, saya tidak banyak komentar karena saya tidak tahu tujuan presiden apa? Misalnya tujuannya strategi pariwisata lebih tajam dan lebih terarah bahkan efektif, yah kita bicara regulasi dan program kerja pemerintah, tidak sampai ke holding. Karena pariwisata bukan hanya BUMN tapi lebih banyak swastanya," tuturnya. (Baca juga: Sedot Investasi Rp23 Triliun, ITDC Jadikan Pariwisata Penopang Ekonomi Nasional )
Di sisi lain, saat dikonfirmasi perihal indikasi untuk menyelamatkan Garuda Indonesia dari tekanan keuangan akibat anjloknya penumpang disaat pandemi, Alvin menyebut, hal itu justru salah kaprah. Kata dia, menyatukan kedua sektor yang sama-sama terpuruk adalah langkah keliru.
"Kalau melakukan itu berarti menjodohkan orang sakit dengan orang sakit. Garuda-nya sakit parah dan pariwisatanya sakit parah, itu nantinya tidak mati bareng tapi keturunannya cacat sejak lahir. Pariwisata dan Garuda sedang marah kalau digabungkan nanti seperti apa?," ujar dia.
Bahkan dia menilai sektor pariwisata bukan hanya dikelola BUMN, tapi ada banyak peran dari pihak swasta. Karena itu, kata dia, ada banyak hal yang harus dipertinbangkan sebelum langkah penggabungan kedua sektor itu dilakukan.
"Ekosistem pariwisata ini tidak hanya transportasi tapi banyak sekali. Nah, saya tidak banyak komentar karena saya tidak tahu tujuan presiden apa? Misalnya tujuannya strategi pariwisata lebih tajam dan lebih terarah bahkan efektif, yah kita bicara regulasi dan program kerja pemerintah, tidak sampai ke holding. Karena pariwisata bukan hanya BUMN tapi lebih banyak swastanya," tuturnya. (Baca juga: Sedot Investasi Rp23 Triliun, ITDC Jadikan Pariwisata Penopang Ekonomi Nasional )
Di sisi lain, saat dikonfirmasi perihal indikasi untuk menyelamatkan Garuda Indonesia dari tekanan keuangan akibat anjloknya penumpang disaat pandemi, Alvin menyebut, hal itu justru salah kaprah. Kata dia, menyatukan kedua sektor yang sama-sama terpuruk adalah langkah keliru.
"Kalau melakukan itu berarti menjodohkan orang sakit dengan orang sakit. Garuda-nya sakit parah dan pariwisatanya sakit parah, itu nantinya tidak mati bareng tapi keturunannya cacat sejak lahir. Pariwisata dan Garuda sedang marah kalau digabungkan nanti seperti apa?," ujar dia.
Lihat Juga :