Deretan Negara dengan Ekonomi Terbesar yang Terkena Resesi

Selasa, 27 Februari 2024 - 14:32 WIB
Hal ini terjadi setelah sebelumnya juga terjadi penurunan sebesar 0,1% antara bulan Juli dan September dan berarti perekonomian mengalami resesi pada akhir tahun 2023.

Resesi terakhir dirasakan Inggris terjadi pada tahun 2020 lalu, saat puncak pandemi virus corona. Penurunan tersebut hanya berlangsung selama enam bulan, meskipun ada penurunan sebesar 20,4% yang tercatat antara bulan April dan Juni 2020, dimana merupakan penurunan terbesar yang pernah tercatat.

Selain itu resesi sebelumnya yang dialami Inggris dimulai pada tahun 2008 sebagai akibat dari krisis keuangan global, dan berlangsung selama lima kuartal, atau 15 bulan. Inggris telah menjadi salah satu anggota terlemah dalam kelompok G7 -negara dengan perekonomian terbesar di dunia-.

Ekonomi Global Tak Baik-baik Saja

Gejolak perekonomian global saat ini telah membawa beberapa negara tidak hanya Inggris dan Jepang masuk ke jurang resesi pada awal tahun 2024. Beberapa negara pun juga menyusul resesi Inggris dan Jepang.

Ada Denmark yang mengalami penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 0,3% pada kuartal ketiga, menyusul penurunan serupa pada kuartal sebelumnya. Penguatan sektor farmasi sebelumnya kuat telah menutupi kelemahan ekonomi di negara ini.

Lalu ada juga Finlandia mengalami resesi teknis karena PDB kuartal IV-2023 turun sebesar 0,4%, menandai penurunan 1,3% dari tahun ke tahun. Kuartal ketiga juga melemah sebesar 0,7%, menghasilkan penurunan 0,5% dari tahun ke tahun untuk keseluruhan 2023.

Beberapa negara Eropa lainnya merasakan hal serupa yakni Estonia, Irlandia, Luxembourg dan Moldova. Sementara dari benua Amerika, ada Peru yang memasuki resesi tahun ini karena El Nino, investasi swasta yang lebih rendah, dan efek yang tersisa dari protes pada akhir 2022 dan awal tahun ini menjadi penyebabnya.

Resesi Covid-19

Saat pandemi Covid-19 melanda dunia, beberapa negara maju tidak lolos dari resesi. Resesi dapat diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut. Apabila pertumbuhan negatif berlangsung lama, maka negara tersebut masuk dalam fase depresi.

Amerika Serikat



Negeri Paman Sam -julukan AS- mencatat pertumbuhan minus hingga 32,9% pada kuartal II-2020. Makin parahnya pertumbuhan ekonomi di kuartal II lantas menyeret negeri adidaya itu dalam fase resesi, usai mencatatkan pertumbuhan negatif sebesar minus 5% pada kuartal I-2020.

Tercatat, kontraksi terjadi karena adanya penurunan tajam pada konsumsi rumah tangga, ekspor, produksi, investasi, serta belanja pemerintah lokal maupun negara bagian.

Jerman

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!