Lifting Minyak Saban Tahun Turun Dianggap Wajar, Ini 5 Penyebabnya

Sabtu, 15 Agustus 2020 - 22:52 WIB
Menurut Mamit, faktor kedua yang menyebabkan lifting turun adalah tren harga minyak dunia yang masih belum kondusif mengingat pandemi Covid-19 masih belum ada kepastian kapan berakhirnya. Dengan demikian, ujar dia, target harga minyak tahun depan di angka USD45 per barel masih belum bisa mengerek keekonomian harga minyak di Indonesia mengingat lifting cost yang masih cukup tinggi.

Dia menambahkan, dampak dari masih rendahnya harga minya dunia mengakibatkan banyak KKKS mengurangi kegiatan pengeboran dan cendrung hanya menahan laju produksi dengan kegiatan workover dan well services (WOWS) saja.

(Baca Juga: Jokowi Beberkan Asumsi-Asumsi Makro 2021 )

“Data yang saya punya, sampai dengan Juli 2020 realisasi pengeboran baru 39% dari target outlook sebanyak 263 pengeboran eksploitasi. Untuk WOWS baru 46% dari target outlook 603 pekerjaan WOWS. Bahkan untuk pengeboran explorasi baru 15% dari target outlook 30 pengeboran sumur eksplorasi," ungkapnya.

Ketiga, iklim investasi yang masih belum kondusif. Hal ini menyebabkan KKKS kesulitan dalam mengembangkan kegiatan operasional mereka. Sebagai contoh, permasalahan sosial masyarakat masih sering ditemui di lapangan sehingga mengganggu kegiatan operasi. Belum lagi persoalan lahan yang bermasalah dan menjadi kendala.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!