Kelangkaan SDM dan Kematangan Digital Jadi Tantangan Inovasi Perbankan
Kamis, 25 April 2024 - 22:19 WIB
Pratomo atau yang biasa dipanggil Tommy menilai, tidak semua segmen nasabah memiliki tingkat kematangan digital yang sama. Nasabah dengan kematangan digital yang rendah relatif masih memerlukan kehadiran fisik bank, meskipun tidak harus selalu dalam bentuk kantor cabang.
"Sebagai bank berbasis teknologi yang tertanam dalam ekosistem digital, Bank Jago meluncurkan Aplikasi Jago untuk membantu semakin banyak orang agar punya kematangan digital keuangan yang semakin baik. Kami juga aktif memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat khususnya generasi muda, sebagai bentuk kontribusi kami untuk meningkatkan inklusi dan literasi keuangan di Indonesia," jelas Pratomo.
Menurut Tommy, agar perbankan dapat sepenuhnya terdigitalisasi maka sistem perbankan maupun sumber daya manusianya memerlukan perubahan pola pikir dan budaya, yang didukung oleh kemampuan digital yang mumpuni. Masalahnya, terdapat keterbatasan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang teknologi digital serta ketidaksesuaian keterampilan antara yang tersedia dengan yang dibutuhkan (supply and demand) terhadap talenta digital di Indonesia.
"Kami di Bank Jago sejak 2021 cukup struggle dalam mencari digital talent. Dari ribuan yang kami tes dan seleksi, yang lolos itu cuma sekian persen, sedikit sekali," ungkap Tommy.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, Bank Jago menginisiasi sejumlah program untuk mengedukasi sekaligus menjaring SDM-SDM berkualitas yang dibutuhkan industri digital, khususnya bank berbasis teknologi. Salah satunya meluncurkan Jago Digital Academy, program pembelajaran mandiri berbasis digital hasil kolaborasi dengan partner-partner strategis dan perguruan tinggi.
Jago Digital Academy (JDA) dirancang sebagai wadah kolaboratif bagi para talenta di bidang teknologi dalam mengakselerasi pengetahuan dan kompetensi digitalnya secara mandiri. Melalui program ini diharapkan muncul talenta-talenta unggul di bidang teknologi dan perbankan digital yang siap terjun di dunia kerja yang semakin kompetitif.
"Sebagai bank berbasis teknologi yang tertanam dalam ekosistem digital, Bank Jago meluncurkan Aplikasi Jago untuk membantu semakin banyak orang agar punya kematangan digital keuangan yang semakin baik. Kami juga aktif memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat khususnya generasi muda, sebagai bentuk kontribusi kami untuk meningkatkan inklusi dan literasi keuangan di Indonesia," jelas Pratomo.
Menurut Tommy, agar perbankan dapat sepenuhnya terdigitalisasi maka sistem perbankan maupun sumber daya manusianya memerlukan perubahan pola pikir dan budaya, yang didukung oleh kemampuan digital yang mumpuni. Masalahnya, terdapat keterbatasan sumber daya manusia yang berkualitas di bidang teknologi digital serta ketidaksesuaian keterampilan antara yang tersedia dengan yang dibutuhkan (supply and demand) terhadap talenta digital di Indonesia.
"Kami di Bank Jago sejak 2021 cukup struggle dalam mencari digital talent. Dari ribuan yang kami tes dan seleksi, yang lolos itu cuma sekian persen, sedikit sekali," ungkap Tommy.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, Bank Jago menginisiasi sejumlah program untuk mengedukasi sekaligus menjaring SDM-SDM berkualitas yang dibutuhkan industri digital, khususnya bank berbasis teknologi. Salah satunya meluncurkan Jago Digital Academy, program pembelajaran mandiri berbasis digital hasil kolaborasi dengan partner-partner strategis dan perguruan tinggi.
Jago Digital Academy (JDA) dirancang sebagai wadah kolaboratif bagi para talenta di bidang teknologi dalam mengakselerasi pengetahuan dan kompetensi digitalnya secara mandiri. Melalui program ini diharapkan muncul talenta-talenta unggul di bidang teknologi dan perbankan digital yang siap terjun di dunia kerja yang semakin kompetitif.
Lihat Juga :