Taipan Rusia: Sanksi Barat pada Akhirnya Bakal Mengakhiri Dominasi Dolar Amerika
Jum'at, 05 Juli 2024 - 13:23 WIB
Pengusaha itu juga mengklaim, bahwa mata uang cadangan dunia tidak akan ada lagi sebagai akibat dari sanksi Barat. Selain itu menurut Melnichenko, proses de-dolarisasi sedang mendapatkan momentum di seluruh dunia yang ditunjukkan bahwa saat ini lebih dari 50% perdagangan luar negeri China diselesaikan dalam mata uang selain greenback.
Sementara lebih dari satu dekade yang lalu, sekitar 90% perdagangan lintas batas negara itu dilakukan dalam mata uang AS. Hal sama juga terjadi di Rusia, ketika dolar menjadi mata uang paling dominan untuk ekspor dan impor. Tapi situasi berbeda terjadi saat ini yang kata Melnichenko, "tersisa 14% dan proses yang sama terjadi di negara lain."
"Secara umum, saya pikir dolar akan kehilangan posisinya sebagai mata uang dunia yang dominan. Hal ini salah satu konsekuensi (dari sanksi)," ungkap pengusaha itu memprediksi.
Menurut Melnichenko, tatanan dunia multipolar baru saat ini sedang dibuat karena "kita sedang melalui periode waktu ketika dominasi satu negara adidaya, Amerika Serikat, tidak akan lagi berada di masa depan dengan cara yang sama seperti sebelumnya."
Lebih lanjut Ia memberikan, catatan bahwa China tumbuh dengan "kecepatan luar biasa" untuk menjadi negara adidaya dunia. "Kita akan melihat setidaknya ada dua negara adidaya, yang dalam satu atau cara lain akan mengatur urusan dunia ke depan," ungkap Melnichenko menyimpulkan.
Sementara lebih dari satu dekade yang lalu, sekitar 90% perdagangan lintas batas negara itu dilakukan dalam mata uang AS. Hal sama juga terjadi di Rusia, ketika dolar menjadi mata uang paling dominan untuk ekspor dan impor. Tapi situasi berbeda terjadi saat ini yang kata Melnichenko, "tersisa 14% dan proses yang sama terjadi di negara lain."
"Secara umum, saya pikir dolar akan kehilangan posisinya sebagai mata uang dunia yang dominan. Hal ini salah satu konsekuensi (dari sanksi)," ungkap pengusaha itu memprediksi.
Menurut Melnichenko, tatanan dunia multipolar baru saat ini sedang dibuat karena "kita sedang melalui periode waktu ketika dominasi satu negara adidaya, Amerika Serikat, tidak akan lagi berada di masa depan dengan cara yang sama seperti sebelumnya."
Lebih lanjut Ia memberikan, catatan bahwa China tumbuh dengan "kecepatan luar biasa" untuk menjadi negara adidaya dunia. "Kita akan melihat setidaknya ada dua negara adidaya, yang dalam satu atau cara lain akan mengatur urusan dunia ke depan," ungkap Melnichenko menyimpulkan.
(akr)
Lihat Juga :