Ekonomi AS Panas Dingin Diterpa Panasnya Suasana Pemilihan Presiden

Sabtu, 27 Juli 2024 - 06:17 WIB
Lalu meskipun inflasi sudah mereda secara signifikan, ketidakpuasan ekonomi tetap tinggi, karena rumah tangga bergulat dengan lonjakan harga 20% sejak 2021 dan biaya pinjaman yang tinggi.

Keputusan Presiden Joe Biden untuk keluar dari persaingan pemilihan Presiden AS telah mengacaukan gambaran lebih jauh.

"Ada banyak arus silang di sini, ketika pemilih berpikir tentang ekonomi," kata Mark Zandi, kepala ekonom di Moody's Analytics.

"Pada titik ini, saya tidak berpikir itu angin yang buruk atau baik," sambungnya.

Ekonom memprediksi pertumbuhan pada kuartal ini bakal berada di sekitar 2%. Tetapi data menunjukkan ekonomi bangkit kembali dari perlambatan pada awal tahun, ketika produk domestik bruto (PDB) tumbuh hanya 1,4%.

Selain belanja konsumen yang kuat, laporan tersebut menunjukkan peningkatan investasi dan ekspor. Dalam sebuah pernyataan, Biden mengatakan, laporan itu "memperjelas bahwa kita sekarang memiliki ekonomi terkuat di dunia".

Tetapi profesor Universitas Iowa, Michael Lewis-Beck yang dikenal lewat prediksinya berdasarkan pertumbuhan ekonomi dan persetujuan presiden, mengatakan pertumbuhan tampaknya tidak cukup kuat pada paruh pertama tahun ini untuk mengatasi ketidakpopuleran Biden yang tajam.

Ia memperkirakan Biden bakal menelan sedikit kerugian, bila melihat pertumbuhan diu awal tahun. Dia memperingatkan bahwa Demokrat, akan menghadapi peluang tipis saat ini setelah Biden memutuskan mundur dari persaingan Pilpres karena kehilangan keunggulan sebagai petahana.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!