Antam Perluas Bisnis kembangankan Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik
Kamis, 19 September 2024 - 18:24 WIB
"Langkah Antam dalam pengembangan ekosistem EV Battery dan hilirisasi nikel mencerminkan peran penting perusahaan dalam mendukung transisi energi global serta memaksimalkan potensi sumber daya mineral Indonesia untuk pasar kendaraan listrik dunia," ujar Syarief.
Salah satu proyek strategis Antam yang kini tengah berjalan adalah proyek hilirisasi nikel di Buli, Halmahera Timur. Proyek ini melibatkan konsorsium internasional CBL (CATL, Brunp, Lygend) dan mencakup pembangunan berbagai fasilitas, seperti tambang bijih nikel, pabrik RKEF, pabrik HPAL, serta pabrik material dan daur ulang baterai.
Perkembangan proyek ini cukup signifikan. Hingga Juni 2024, proyek RKEF berada pada tahap persiapan pre-EPC (Engineering, Procurement, and Construction) dan Pre-Project Financing, sementara proyek HPAL sedang dalam proses pembentukan perusahaan patungan (joint venture). Pabrik RKEF diharapkan mulai beroperasi pada 2027, sementara HPAL ditargetkan beroperasi setahun kemudian, pada 2028.
Untuk mewujudkan proyek-proyek besar ini, Antam membutuhkan investasi signifikan. Proyek RKEF diperkirakan membutuhkan dana sekitar US$ 400 juta hingga US$ 500 juta, dengan belanja modal sebesar US$ 8.000 hingga US$ 9.000 per ton nikel. Proyek HPAL, di sisi lain, memerlukan investasi sebesar US$ 250 juta hingga US$ 300 juta, dengan belanja modal per ton mencapai US$ 24.000 hingga US$ 30.000.
Sebagai bagian dari strategi hilirisasi nikel, Antam juga memperluas kapasitas pengolahannya dengan mengakuisisi smelter dari Tsingshan Group. Pada Mei 2024, anak perusahaan Antam, PT Gag Nikel, menandatangani Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dengan Newton International Investment Pte. Ltd., anak usaha Tsingshan. Akuisisi ini diharapkan memperkuat posisi Antam dalam rantai nilai industri nikel global.
Salah satu proyek strategis Antam yang kini tengah berjalan adalah proyek hilirisasi nikel di Buli, Halmahera Timur. Proyek ini melibatkan konsorsium internasional CBL (CATL, Brunp, Lygend) dan mencakup pembangunan berbagai fasilitas, seperti tambang bijih nikel, pabrik RKEF, pabrik HPAL, serta pabrik material dan daur ulang baterai.
Perkembangan proyek ini cukup signifikan. Hingga Juni 2024, proyek RKEF berada pada tahap persiapan pre-EPC (Engineering, Procurement, and Construction) dan Pre-Project Financing, sementara proyek HPAL sedang dalam proses pembentukan perusahaan patungan (joint venture). Pabrik RKEF diharapkan mulai beroperasi pada 2027, sementara HPAL ditargetkan beroperasi setahun kemudian, pada 2028.
Untuk mewujudkan proyek-proyek besar ini, Antam membutuhkan investasi signifikan. Proyek RKEF diperkirakan membutuhkan dana sekitar US$ 400 juta hingga US$ 500 juta, dengan belanja modal sebesar US$ 8.000 hingga US$ 9.000 per ton nikel. Proyek HPAL, di sisi lain, memerlukan investasi sebesar US$ 250 juta hingga US$ 300 juta, dengan belanja modal per ton mencapai US$ 24.000 hingga US$ 30.000.
Sebagai bagian dari strategi hilirisasi nikel, Antam juga memperluas kapasitas pengolahannya dengan mengakuisisi smelter dari Tsingshan Group. Pada Mei 2024, anak perusahaan Antam, PT Gag Nikel, menandatangani Conditional Share Purchase Agreement (CSPA) dengan Newton International Investment Pte. Ltd., anak usaha Tsingshan. Akuisisi ini diharapkan memperkuat posisi Antam dalam rantai nilai industri nikel global.
Lihat Juga :