Target Pertumbuhan Ekonomi 8%, Mimpi atau Realistis?
Minggu, 08 Desember 2024 - 08:09 WIB
Mukhaer juga menyoroti dampak pandemi Covid-19 yang telah memukul daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah. Sejak 2020 hingga 2024, sebanyak 9,48 juta orang dari kelas menengah terperosok kembali ke kelompok miskin. Amblasnya jumlah kelas menengah ini disertai dengan pergeseran lapangan pekerjaan.
Sejak 2019, jumlah lapangan kerja formal kelas menengah terus tertekan, sementara lapangan kerja informal bertambah. "Kelas menengah adalah penggerak konsumsi domestik yang selama ini menjadi penopang PDB. Jika mereka terus tertekan, dampaknya akan signifikan pada PDB dan pertumbuhan ekonomi nasional," jelas Mukhaer.
Baca Juga: Jokowi Temui Presiden Prabowo Subianto di Kertanegara, Ada Apa?
Pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12% yang direncanakan mulai Januari 2025 juga dinilai tidak realistis. "Apalagi jika disertai rencana pengalihan subsidi BBM dan listrik yang bisa memantik tarif listrik untuk kelas menengah bawah terkerek naik. Beratnya beban biaya, pasti akan memulusukan jumlah panen pengangguran bertambah," tambahnya.
Menurut Mukhaer, solusi utama terletak pada perombakan total struktur ekonomi. "Terutama dalam aspek kebijakan fiskal dan afirmasi untuk mendukung kelas ekonomi menengah bawah hingga kelompok akar rumput serta menghilangkan delusi ekonomi," pungkas Mukhaer.
Sejak 2019, jumlah lapangan kerja formal kelas menengah terus tertekan, sementara lapangan kerja informal bertambah. "Kelas menengah adalah penggerak konsumsi domestik yang selama ini menjadi penopang PDB. Jika mereka terus tertekan, dampaknya akan signifikan pada PDB dan pertumbuhan ekonomi nasional," jelas Mukhaer.
Baca Juga: Jokowi Temui Presiden Prabowo Subianto di Kertanegara, Ada Apa?
Pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 12% yang direncanakan mulai Januari 2025 juga dinilai tidak realistis. "Apalagi jika disertai rencana pengalihan subsidi BBM dan listrik yang bisa memantik tarif listrik untuk kelas menengah bawah terkerek naik. Beratnya beban biaya, pasti akan memulusukan jumlah panen pengangguran bertambah," tambahnya.
Menurut Mukhaer, solusi utama terletak pada perombakan total struktur ekonomi. "Terutama dalam aspek kebijakan fiskal dan afirmasi untuk mendukung kelas ekonomi menengah bawah hingga kelompok akar rumput serta menghilangkan delusi ekonomi," pungkas Mukhaer.
(nng)
Lihat Juga :