Digitalisasi dan AI Penting Mencegah Mark up Anggaran
Selasa, 31 Desember 2024 - 16:32 WIB
Salah satu langkah konkret memitigasi kebocoran anggaran adalah dengan penerapan digitalisasi dan teknologi kecerdasan buatan (AI). Ilustrasi/Istimewa
SURABAYA - Salah satu langkah konkret memitigasi kebocoran anggaran adalah dengan penerapan digitalisasi dan teknologi kecerdasan buatan ( artificial intelligence/AI ). Upaya ini harus dibarengi dengan penguatan budaya antikorupsi di semua lini pemerintahan.
Ahli Hukum dan Pembangunan Hardjuno Wiwoho mengatakan, digitalisasi seperti e-catalog dan e-government sudah menjadi fondasi yang baik. Namun demikian teknologi ini harus didukung oleh budaya anti-korupsi yang kuat. “Tanpa komitmen integritas dari para pelaksana, teknologi secanggih apa pun tidak akan efektif,” kata Hardjuno, Selasa (31/12/2024).Baca juga: APBN November 2024 Tekor Rp401,8 Triliun, Ini Penjelasan Sri Mulyani
Hardjuno menjelaskan, teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi pola-pola penggelembungan anggaran (mark up) dan anomali dalam pengadaan barang dan jasa. “Dengan analisis data real-time, AI mampu memprediksi risiko korupsi dan memastikan bahwa harga barang atau jasa yang diajukan sesuai dengan harga pasar. Ini akan mempersempit ruang gerak pelaku korupsi,” tambahnya.
Namun, Hardjuno menegaskan bahwa teknologi hanya salah satu alat bantu. Sedangkan akar permasalahan sering kali terletak pada budaya dan mentalitas para pelaku anggaran.
Ahli Hukum dan Pembangunan Hardjuno Wiwoho mengatakan, digitalisasi seperti e-catalog dan e-government sudah menjadi fondasi yang baik. Namun demikian teknologi ini harus didukung oleh budaya anti-korupsi yang kuat. “Tanpa komitmen integritas dari para pelaksana, teknologi secanggih apa pun tidak akan efektif,” kata Hardjuno, Selasa (31/12/2024).Baca juga: APBN November 2024 Tekor Rp401,8 Triliun, Ini Penjelasan Sri Mulyani
Hardjuno menjelaskan, teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi pola-pola penggelembungan anggaran (mark up) dan anomali dalam pengadaan barang dan jasa. “Dengan analisis data real-time, AI mampu memprediksi risiko korupsi dan memastikan bahwa harga barang atau jasa yang diajukan sesuai dengan harga pasar. Ini akan mempersempit ruang gerak pelaku korupsi,” tambahnya.
Namun, Hardjuno menegaskan bahwa teknologi hanya salah satu alat bantu. Sedangkan akar permasalahan sering kali terletak pada budaya dan mentalitas para pelaku anggaran.
Lihat Juga :