Sering Umbar Ancaman, Trump Justru Memicu Keinginan Dedolarisasi
Minggu, 26 Januari 2025 - 18:30 WIB
Baca Juga: Sering Dijiplak,Toyota Hadirkan Varian GR pada Hampir Seluruh Lini Model
"Anda ingin membujuk orang untuk menggunakan mata uang Anda karena mata uang tersebut memenuhi beberapa hal - memberikan stabilitas dan alat pembayaran," kata Rogoff. "Tapi jika Anda diancam, saya pikir itu hanya memperkuat insentif untuk mencoba dan melakukan diversifikasi," paparnya, seperti dilansir WatcherGuru, dikutip Minggu (26/1/2025).
Sentimen tersebut juga digaungkan oleh profesor keuangan Universitas Chicago, Raghuram Rajan. "Saya pikir Presiden Trump bereaksi terlalu dini terhadap sesuatu yang tidak akan terjadi," katanya.
Dengan dolar AS yang ditetapkan dengan kuat sebagai mata uang cadangan global, posisinya tampaknya tidak terancam. Namun, ancaman Trump yang berkelanjutan dapat memengaruhi negara-negara lain untuk memulai proses diversifikasi. Pada akhirnya, hal itu justru dapat memicu terjadinya dedolarisasi.
"Anda ingin membujuk orang untuk menggunakan mata uang Anda karena mata uang tersebut memenuhi beberapa hal - memberikan stabilitas dan alat pembayaran," kata Rogoff. "Tapi jika Anda diancam, saya pikir itu hanya memperkuat insentif untuk mencoba dan melakukan diversifikasi," paparnya, seperti dilansir WatcherGuru, dikutip Minggu (26/1/2025).
Sentimen tersebut juga digaungkan oleh profesor keuangan Universitas Chicago, Raghuram Rajan. "Saya pikir Presiden Trump bereaksi terlalu dini terhadap sesuatu yang tidak akan terjadi," katanya.
Dengan dolar AS yang ditetapkan dengan kuat sebagai mata uang cadangan global, posisinya tampaknya tidak terancam. Namun, ancaman Trump yang berkelanjutan dapat memengaruhi negara-negara lain untuk memulai proses diversifikasi. Pada akhirnya, hal itu justru dapat memicu terjadinya dedolarisasi.
(fjo)
Lihat Juga :