Jangan Menyerah

Kamis, 03 September 2020 - 06:06 WIB
“Memang seluruh dunia hanya Indonesia yang akan resesi? Bukannya sudah 44 negara yang resesi. Justru kita resesinya paling rendah. Kalau pada kuartal II minus 5,32%, perkiraan saya akhir September nanti minus 2–3%,” ujarnya di Jakarta kemarin.

Dia mengingatkan pemerintah maupun masyarakat agar dalam koridor sosial tetap melakukan ikhtiar dan berusaha. “Dari sisi pemerintah, insentif sudah diturunkan. Insentif yang Rp695,2 triliun itu tidak begitu saja turun. Dia harus berproses,” tuturnya.

Said mengajak semua elemen bangsa untuk optimistis dalam menghadapi badai ekonomi ini. Dia menilai kebijakan fiskal yang dilakukan pemerintah itu 40% ditujukan untuk masyarakat kelas bawah dan UMKM. Ini bisa menumbuhkan perekonomian secara perlahan. Harapannya pada kuartal IV pertumbuhan ekonomi sudah positif.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengungkapkan, resesi yang terjadi sekarang ini tidak perlu dikhawatirkan. Dia menyebutkan pemerintah sendiri seakan ketakutan dengan resesi, padahal kondisi tersebut bukan ujung dunia.

“Resesi biasa-biasa saja. Hanya harus memperbaiki jangan sampai drop minusnya. Kalau resesi sudah pasti. Untuk membalikkan dari minus 5,32% itu perjuangan berat banget. Menurut saya, konsentrasi agar daya beli masyarakat tidak turun. Yang paling penting adalah Covid-19 ditangani dengan benar,” paparnya. (Baca juga: Demi Bisa Belajar Daring, Gadis SMP Harus Kehilangan Keperawanannya)

Pemerintah harus semakin masif melakukan sosialisasi protokol kesehatan Covid-19. Hal ini penting agar persebaran Covid-19 bisa terkendali. Kalau perlu, ada pemberian sanksi, entah berupa denda atau kerja sosial. “Upaya menyadarkan masyarakat itu penting karena kalau terus-menerus begini itu bahaya. Artinya mau stimulus berapa pun enggak akan menyelesaikan masalah,” ujarnya.

Belum Berdampak

Direktur Eksekutif Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad berpendapat, berbagai bantuan tunai dan insentif untuk PEN yang digulirkan belum terbukti mengangkat daya beli masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan masih terjadinya deflasi pada Agustus lalu.

Tauhid mengatakan, tidak tumbuhnya daya beli masyarakat disebabkan beberapa faktor. Di antaranya penurunan pendapatan yang dirasakan masyarakat secara umum yang jauh lebih besar ketimbang insentif yang diberikan pemerintah. (Baca juga: Pesawat Tempur Su-57 Rusia Akan Dapatkan 'Jubah Gaib')
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!