Harta Karun Mineral Ukraina Sudah Lama Diincar Sekutunya
Minggu, 16 Februari 2025 - 12:59 WIB
"Ini bukan hanya langkah penting untuk pemulihan ekonomi Ukraina pascaperang, tetapi juga kesempatan bagi AS untuk mengatasi masalah rantai pasokan global," kata Katser-Buchkovska, yang menjabat sebagai anggota Parlemen Ukraina dari 2014 hingga 2019 dan merupakan kepala komite parlemen tentang keamanan dan transisi energi.
Ukraina diprediksi tidak memiliki cadangan mineral tanah jarang yang signifikan secara global, tetapi mempunyai beberapa deposit grafit, lithium, titanium, berilium dan uranium terbesar di dunia, yang semuanya diklasifikasikan oleh AS sebagai mineral kritis. Beberapa dari cadangan ini berada di daerah yang saat ini berada di bawah pendudukan Rusia.
China telah lama mendominasi produksi global mineral tanah jarang dan bahan penting strategis lainnya. Menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), China bertanggung jawab atas hampir 90% pemrosesan global mineral tanah jarang.
Selain itu, China juga merupakan produsen grafit dan titanium terbesar di dunia, dan prosesor utama lithium. Perang dagang terbaru antara Washington dan Beijing membuatnya semakin penting bagi AS untuk mencari pemasok alternatif.
Kebijakan ekonomi yang diumumkan China sebagai pembalasan atas tarif baru Trump termasuk kontrol ekspor baru pada lebih dari dua lusin produk logam dan teknologi terkait. Meskipun mtidak mencakup bahan paling penting yang dibutuhkan AS, langkah itu menunjukkan bahwa China siap untuk menggunakan kekayaan mineralnya sebagai pengaruh dalam babak baru perang dagang.
Mycyk mengatakan. bahwa permintaan untuk bahan-bahan penting ini diperkirakan bakal melonjak seiring transisi global ke kendaraan listrik dan teknologi energi terbarukan. Baca Juga: Trump Incar Harta Karun Logam Tanah Jarang Ukraina Sebagai Ganti Dukungan AS
"Deposit Ukraina dengan demikian cukup signifikan secara global, menawarkan diversifikasi dari produsen dominan seperti China. Menjaga sumber daya ini di bawah kendali Ukraina sangat penting untuk mempertahankan kedaulatan ekonominya," tambahnya.
China Mendominasi Cadangan Mineral Kritis
Meskipun Trump menggunakan istilah 'tanah jarang', namun tidak jelas apakah dia bermaksud merujuk secara khusus pada mineral tanah jarang – sekelompok 17 unsur yang ada di inti bumi dan memiliki sifat magnetik dan konduktif yang membuatnya penting untuk produksi elektronik, teknologi energi bersih dan beberapa sistem senjata.Ukraina diprediksi tidak memiliki cadangan mineral tanah jarang yang signifikan secara global, tetapi mempunyai beberapa deposit grafit, lithium, titanium, berilium dan uranium terbesar di dunia, yang semuanya diklasifikasikan oleh AS sebagai mineral kritis. Beberapa dari cadangan ini berada di daerah yang saat ini berada di bawah pendudukan Rusia.
China telah lama mendominasi produksi global mineral tanah jarang dan bahan penting strategis lainnya. Menurut Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), China bertanggung jawab atas hampir 90% pemrosesan global mineral tanah jarang.
Selain itu, China juga merupakan produsen grafit dan titanium terbesar di dunia, dan prosesor utama lithium. Perang dagang terbaru antara Washington dan Beijing membuatnya semakin penting bagi AS untuk mencari pemasok alternatif.
Kebijakan ekonomi yang diumumkan China sebagai pembalasan atas tarif baru Trump termasuk kontrol ekspor baru pada lebih dari dua lusin produk logam dan teknologi terkait. Meskipun mtidak mencakup bahan paling penting yang dibutuhkan AS, langkah itu menunjukkan bahwa China siap untuk menggunakan kekayaan mineralnya sebagai pengaruh dalam babak baru perang dagang.
Mycyk mengatakan. bahwa permintaan untuk bahan-bahan penting ini diperkirakan bakal melonjak seiring transisi global ke kendaraan listrik dan teknologi energi terbarukan. Baca Juga: Trump Incar Harta Karun Logam Tanah Jarang Ukraina Sebagai Ganti Dukungan AS
"Deposit Ukraina dengan demikian cukup signifikan secara global, menawarkan diversifikasi dari produsen dominan seperti China. Menjaga sumber daya ini di bawah kendali Ukraina sangat penting untuk mempertahankan kedaulatan ekonominya," tambahnya.
(akr)
Lihat Juga :