Hadapi Tarif Trump, Mereka yang Melawan dan yang Memilih Negosiasi
Kamis, 10 April 2025 - 16:09 WIB
3. Korea Selatan
Pada hari Selasa, Trump menulis di situs media sosial Truth Social bahwa ia melakukan "panggilan telepon yang hebat" dengan Penjabat Presiden dan Perdana Menteri Korea Selatan, Han Duck-soo."Kami memiliki batasan dan kemungkinan untuk KESEPAKATAN yang hebat bagi kedua negara," tulis Trump. "TIM utama mereka sedang dalam pesawat menuju AS, dan semuanya tampak baik-baik saja."
4. Indonesia
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri panen raya di Majalengka awal pekan ini menegaskan sikapnya terkait tarif impor sebesar 32 persen ke Indonesia yang ditetapkan oleh Amerika. Prabowo menyatakan akan membuka jalan untuk negosiasi atau berunding dengan AS. Masa depan kita bagus, tantangan kita tidak ringan. Mungkin saudara mendengar dunia diguncang banyak masalah, di mana-mana perseteruan antara negara-negara besar, yang terakhir perang dagang kita juga kena. Tapi kita tenang, kita punya kekuatan juga nanti akan berunding," ujar Prabowo.
MenurutMenko Perekonomian Airlangga Hartarto, hampir semua negara ASEAN seperti Vietnam, Malaysia, Kamboja, Thailand dan Indonesia, telah memutuskan untuk tidak melakukan tindakan balasan terhadap kebijakan tarif AS.Indonesia, kata dia, memilih untuk menempuh jalur diplomasi dan negosiasi dalam merespons kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan Amerika.
Pemerintah Indonesia menurutnya terus menjalin komunikasi dengan United States Trade Representative (USTR), US Chamber of Commerce, dan negara mitra lainnya. Koordinasi ini dilakukan untuk merumuskan langkah strategis yang tepat, dengan mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh dan selaras dengan kepentingan nasional.
Baca Juga: China Mengutuk Tarif Baru Trump 54%, Sebut Bentuk Intimidasi Ekonomi
Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan bahwa ada banyak lagi negara yang siap bernegosiasi dengan Amerika terkait tarif yang diterimanya. Mengutip Reuters, Greer saat memberi tahu Komite Keuangan Senat pada hari Selasa mengatakan bahwa bahwa hampir 50 negara telah menghubunginya untuk membahas tarif baru yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Komentar tersebut menggemakan pengungkapan Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS Kevin Hassett selama akhir pekan bahwa lebih banyak negara telah menghubungi Gedung Putih untuk memulai negosiasi perdagangan.
"Beberapa negara ini, seperti Argentina, Vietnam, dan Israel, telah menyatakan bahwa mereka akan mengurangi tarif dan hambatan non-tarif mereka," kata Greer. "Ini jelas merupakan langkah yang baik. Defisit perdagangan kita yang besar dan terus-menerus telah berlangsung selama 30 tahun, dan tidak akan terselesaikan dalam semalam, tetapi semua ini berada di arah yang benar," imbuh Greer.
Ia mengatakan bahwa rencana Trump membuahkan hasil, seraya menyebutkan bahwa salah satu produsen mobil telah mengalihkan rencana produksi untuk satu kendaraan dari Meksiko ke Indiana. Namun, ia memperingatkan bahwa akan ada beberapa kesulitan dalam transisi tersebut.
Terpisah, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa praktik perdagangan yang tidak adil bukanlah "hal yang dapat dinegosiasikan dalam hitungan hari atau minggu." Amerika Serikat, katanya, harus melihat "apa yang ditawarkan negara-negara tersebut dan apakah itu dapat dipercaya."
Sementara itu, Trump, yang menghabiskan akhir pekan di Florida bermain golf, memposting secara daring bahwa "KITA AKAN MENANG. TAHAN KUAT, itu tidak akan mudah." Pernyataan itu kemudian didukung penuh oleh anggota Kabinet dan para penasihat ekonominya yang pada hari Minggu keluar untuk membela kebijakan tarif Trump dan meremehkan konsekuensinya bagi ekonomi global.
Pada hari Selasa, Trump menulis di situs media sosial Truth Social bahwa ia melakukan "panggilan telepon yang hebat" dengan Penjabat Presiden dan Perdana Menteri Korea Selatan, Han Duck-soo."Kami memiliki batasan dan kemungkinan untuk KESEPAKATAN yang hebat bagi kedua negara," tulis Trump. "TIM utama mereka sedang dalam pesawat menuju AS, dan semuanya tampak baik-baik saja."
4. Indonesia
Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri panen raya di Majalengka awal pekan ini menegaskan sikapnya terkait tarif impor sebesar 32 persen ke Indonesia yang ditetapkan oleh Amerika. Prabowo menyatakan akan membuka jalan untuk negosiasi atau berunding dengan AS. Masa depan kita bagus, tantangan kita tidak ringan. Mungkin saudara mendengar dunia diguncang banyak masalah, di mana-mana perseteruan antara negara-negara besar, yang terakhir perang dagang kita juga kena. Tapi kita tenang, kita punya kekuatan juga nanti akan berunding," ujar Prabowo.
MenurutMenko Perekonomian Airlangga Hartarto, hampir semua negara ASEAN seperti Vietnam, Malaysia, Kamboja, Thailand dan Indonesia, telah memutuskan untuk tidak melakukan tindakan balasan terhadap kebijakan tarif AS.Indonesia, kata dia, memilih untuk menempuh jalur diplomasi dan negosiasi dalam merespons kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan Amerika.
Pemerintah Indonesia menurutnya terus menjalin komunikasi dengan United States Trade Representative (USTR), US Chamber of Commerce, dan negara mitra lainnya. Koordinasi ini dilakukan untuk merumuskan langkah strategis yang tepat, dengan mempertimbangkan berbagai aspek secara menyeluruh dan selaras dengan kepentingan nasional.
Baca Juga: China Mengutuk Tarif Baru Trump 54%, Sebut Bentuk Intimidasi Ekonomi
Sementara itu, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan bahwa ada banyak lagi negara yang siap bernegosiasi dengan Amerika terkait tarif yang diterimanya. Mengutip Reuters, Greer saat memberi tahu Komite Keuangan Senat pada hari Selasa mengatakan bahwa bahwa hampir 50 negara telah menghubunginya untuk membahas tarif baru yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Komentar tersebut menggemakan pengungkapan Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS Kevin Hassett selama akhir pekan bahwa lebih banyak negara telah menghubungi Gedung Putih untuk memulai negosiasi perdagangan.
"Beberapa negara ini, seperti Argentina, Vietnam, dan Israel, telah menyatakan bahwa mereka akan mengurangi tarif dan hambatan non-tarif mereka," kata Greer. "Ini jelas merupakan langkah yang baik. Defisit perdagangan kita yang besar dan terus-menerus telah berlangsung selama 30 tahun, dan tidak akan terselesaikan dalam semalam, tetapi semua ini berada di arah yang benar," imbuh Greer.
Ia mengatakan bahwa rencana Trump membuahkan hasil, seraya menyebutkan bahwa salah satu produsen mobil telah mengalihkan rencana produksi untuk satu kendaraan dari Meksiko ke Indiana. Namun, ia memperingatkan bahwa akan ada beberapa kesulitan dalam transisi tersebut.
Terpisah, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa praktik perdagangan yang tidak adil bukanlah "hal yang dapat dinegosiasikan dalam hitungan hari atau minggu." Amerika Serikat, katanya, harus melihat "apa yang ditawarkan negara-negara tersebut dan apakah itu dapat dipercaya."
Sementara itu, Trump, yang menghabiskan akhir pekan di Florida bermain golf, memposting secara daring bahwa "KITA AKAN MENANG. TAHAN KUAT, itu tidak akan mudah." Pernyataan itu kemudian didukung penuh oleh anggota Kabinet dan para penasihat ekonominya yang pada hari Minggu keluar untuk membela kebijakan tarif Trump dan meremehkan konsekuensinya bagi ekonomi global.
(fjo)
Lihat Juga :