2 Senjata Pamungkas China Lawan Amerika dalam Perang Dagang
Sabtu, 12 April 2025 - 12:56 WIB
Minggu lalu, China menempatkan 7 jenis tanah jarang sedang dan berat pada daftar kontrol ekspor. Meskipun kontrol tersebut tidak sampai pada larangan langsung, Beijing masih dapat menghambat perdagangan dengan membatasi jumlah lisensi ekspor yang dikeluarkannya. China mendominasi 90% pasar tanah jarang global - sekelompok 17 elemen yang penting bagi industri pertahanan, energi, dan elektronik.
Beijing juga telah membatasi pengiriman mineral penting lainnya - termasuk germanium, galium, dan grafit - ke AS selama dua tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan AS dipastikan bakal kesulitan untuk mengisi kesenjangan tersebut. Diperlukan waktu rata-rata 29 tahun untuk beralih dari penemuan mineral hingga produksi di AS.
Seiring meningkatnya ketegangan dengan Washington, Beijing juga bisa menggunakan senjata pamungkas keduanya, yakni dengan membuang obligasi pemerintah AS - ancaman yang telah menimbulkan kegelisahan di pasar keuangan. China memegang utang AS sebesar USD761 miliar, atau sekira Rp12.784 triliun (kurs Rp16.800 per USD), menjadikannya pemegang utang AS asing terbesar kedua setelah Jepang.
Penjualan besar-besaran oleh China dapat menurunkan nilai obligasi AS dan menyebabkan melonjaknya imbal hasil, yang secara tajam meningkatkan biaya pinjaman bagi pemerintah federal. Hal itu juga dapat melemahkan dolar AS dan mengirimkan gelombang kejut melalui pasar keuangan global.
Di luar obligasi pemerintah, China juga dapat lebih jauh mendevaluasi yuan - taktik yang telah digunakan berulang kali - untuk membuat ekspornya lebih kompetitif sambil mengurangi harga barang-barang Amerika di pasar domestiknya.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa AS mengeluarkan jeda tarif selama 90 hari, kecuali bagi China. Beijing tetap dikenai tarif, yang bahkan ditingkatkan hingga 145 persen setelah China membalas menaikkan tarif atas impor AS dari 84 persen menjadi 125 persen.
Beijing juga telah membatasi pengiriman mineral penting lainnya - termasuk germanium, galium, dan grafit - ke AS selama dua tahun terakhir. Perusahaan-perusahaan AS dipastikan bakal kesulitan untuk mengisi kesenjangan tersebut. Diperlukan waktu rata-rata 29 tahun untuk beralih dari penemuan mineral hingga produksi di AS.
Seiring meningkatnya ketegangan dengan Washington, Beijing juga bisa menggunakan senjata pamungkas keduanya, yakni dengan membuang obligasi pemerintah AS - ancaman yang telah menimbulkan kegelisahan di pasar keuangan. China memegang utang AS sebesar USD761 miliar, atau sekira Rp12.784 triliun (kurs Rp16.800 per USD), menjadikannya pemegang utang AS asing terbesar kedua setelah Jepang.
Penjualan besar-besaran oleh China dapat menurunkan nilai obligasi AS dan menyebabkan melonjaknya imbal hasil, yang secara tajam meningkatkan biaya pinjaman bagi pemerintah federal. Hal itu juga dapat melemahkan dolar AS dan mengirimkan gelombang kejut melalui pasar keuangan global.
Di luar obligasi pemerintah, China juga dapat lebih jauh mendevaluasi yuan - taktik yang telah digunakan berulang kali - untuk membuat ekspornya lebih kompetitif sambil mengurangi harga barang-barang Amerika di pasar domestiknya.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa AS mengeluarkan jeda tarif selama 90 hari, kecuali bagi China. Beijing tetap dikenai tarif, yang bahkan ditingkatkan hingga 145 persen setelah China membalas menaikkan tarif atas impor AS dari 84 persen menjadi 125 persen.
Lihat Juga :