Trump Bongkar 8 Kecurangan China dalam Praktik Perdagangan Global
Selasa, 22 April 2025 - 07:29 WIB
AS juga telah lama menuding China melakukan pencurian dan pemalsuan hak kekayaan intelektual. Kamar Dagang AS memperkirakan bahwa dua pertiga dari seluruh kasus pelanggaran kekayaan intelektual dunia berasal dari China. Survei CNBC pada 2019 menunjukkan bahwa satu dari lima perusahaan Amerika mengaku pernah menjadi korban pencurian IP oleh entitas China.
Strategi lain yang dikhawatirkan Washington adalah praktik transshipping, yakni pengalihan pengiriman barang melalui negara ketiga guna menghindari tarif. Menurut laporan Financial Times, beberapa penjual dari platform Temu yang berbasis di Guangzhou telah membuka pabrik di Yordania agar produk mereka bisa diekspor ke AS dengan label negara ketiga.
"China menunjukkan kecerdikan dalam mengakali tarif. Mereka menggunakan warga lokal sebagai wajah depan perusahaan, padahal sebenarnya dimiliki penuh oleh entitas China," ungkap Nicholas Lardy, analis kebijakan perdagangan China kepada Newsweek.
Wakil Presiden Asia Society Policy Institute dan mantan negosiator perdagangan AS, Wendy Cutler, menambahkan semakin banyak perusahaan China yang berinvestasi di negara ketiga seperti Vietnam untuk menghindari tarif AS, yang turut menyebabkan defisit perdagangan besar antara AS dan Vietnam.
Di sisi lain, Pemerintah China memperingatkan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam terhadap langkah negara lain yang merugikan kepentingan Beijing melalui kesepakatan dagang dengan AS.
"Penengahan tidak akan menghasilkan perdamaian, dan kompromi tidak akan menghasilkan rasa hormat," tegas Juru Bicara Kementerian Perdagangan China.
"China menentang keras setiap kesepakatan yang mengorbankan kepentingan nasional dan akan mengambil langkah balasan yang tegas bila perlu."
Strategi lain yang dikhawatirkan Washington adalah praktik transshipping, yakni pengalihan pengiriman barang melalui negara ketiga guna menghindari tarif. Menurut laporan Financial Times, beberapa penjual dari platform Temu yang berbasis di Guangzhou telah membuka pabrik di Yordania agar produk mereka bisa diekspor ke AS dengan label negara ketiga.
"China menunjukkan kecerdikan dalam mengakali tarif. Mereka menggunakan warga lokal sebagai wajah depan perusahaan, padahal sebenarnya dimiliki penuh oleh entitas China," ungkap Nicholas Lardy, analis kebijakan perdagangan China kepada Newsweek.
Wakil Presiden Asia Society Policy Institute dan mantan negosiator perdagangan AS, Wendy Cutler, menambahkan semakin banyak perusahaan China yang berinvestasi di negara ketiga seperti Vietnam untuk menghindari tarif AS, yang turut menyebabkan defisit perdagangan besar antara AS dan Vietnam.
Di sisi lain, Pemerintah China memperingatkan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam terhadap langkah negara lain yang merugikan kepentingan Beijing melalui kesepakatan dagang dengan AS.
"Penengahan tidak akan menghasilkan perdamaian, dan kompromi tidak akan menghasilkan rasa hormat," tegas Juru Bicara Kementerian Perdagangan China.
"China menentang keras setiap kesepakatan yang mengorbankan kepentingan nasional dan akan mengambil langkah balasan yang tegas bila perlu."
(nng)
Lihat Juga :