3 Jet Tempur Rafale Ditembak Jatuh Pakistan, Saham Dassault Langsung Jeblok
Sabtu, 10 Mei 2025 - 23:28 WIB
Penurunan saham Dassault terjadi di tengah tingginya volatilitas pasar. Volume perdagangan melonjak menjadi 58.388 saham pada 7 Mei meningkat dari 57.327 saham tiga hari sebelumnya. Penurunan ini juga kontras dengan tren sebelumnya, di mana saham Dassault sempat naik 51% sejak awal 2025, didukung kinerja keuangan yang solid dan aksi buyback saham pada Maret lalu.
Insiden ini juga berpotensi memengaruhi kontrak-kontrak besar Dassault, termasuk kesepakatan pengadaan 36 Rafale tambahan oleh India senilai USD9,3 miliar. Ketahanan Rafale terhadap rudal modern kini menjadi perhatian dalam dinamika geopolitik kawasan.
Selain tantangan reputasi, Dassault menghadapi kendala produksi. Pabrik baru mereka di Cergy, yang diresmikan April lalu belum mampu sepenuhnya mengatasi kemacetan rantai pasok, terutama di segmen jet bisnis Falcon yang menyumbang sepertiga pendapatan perusahaan.
Baca Juga: Beda Jauh, Ini Perbandingan Anggaran Perang Pakistan dengan India
Dengan target pengiriman 25 Rafale dan 40 Falcon pada 2025, beban kerja Dassault makin berat. Para analis menilai bahwa kemampuan Dassault memenuhi target tersebut di tengah ketegangan geopolitik akan menjadi penentu arah saham perusahaan dalam beberapa bulan mendatang. "Kontraktor pertahanan tidak hanya bertarung di pasar, tetapi juga di medan perang persepsi publik," kata Muharremi.
Insiden ini juga berpotensi memengaruhi kontrak-kontrak besar Dassault, termasuk kesepakatan pengadaan 36 Rafale tambahan oleh India senilai USD9,3 miliar. Ketahanan Rafale terhadap rudal modern kini menjadi perhatian dalam dinamika geopolitik kawasan.
Selain tantangan reputasi, Dassault menghadapi kendala produksi. Pabrik baru mereka di Cergy, yang diresmikan April lalu belum mampu sepenuhnya mengatasi kemacetan rantai pasok, terutama di segmen jet bisnis Falcon yang menyumbang sepertiga pendapatan perusahaan.
Baca Juga: Beda Jauh, Ini Perbandingan Anggaran Perang Pakistan dengan India
Dengan target pengiriman 25 Rafale dan 40 Falcon pada 2025, beban kerja Dassault makin berat. Para analis menilai bahwa kemampuan Dassault memenuhi target tersebut di tengah ketegangan geopolitik akan menjadi penentu arah saham perusahaan dalam beberapa bulan mendatang. "Kontraktor pertahanan tidak hanya bertarung di pasar, tetapi juga di medan perang persepsi publik," kata Muharremi.
(nng)
Lihat Juga :