Trump Desak The Fed Pangkas Bunga Acuan 1%, Sebut Powell Rugikan Negara

Minggu, 08 Juni 2025 - 07:32 WIB
Banyak pembuat kebijakan memilih menunggu kejelasan lebih lanjut terkait dampak kebijakan perdagangan, imigrasi, dan perpajakan terhadap perekonomian sebelum mengambil langkah perubahan suku bunga. Penurunan suku bunga acuan sebesar 1% dalam satu kali pertemuan sangat jarang terjadi, kecuali di tengah krisis ekonomi atau keuangan. Terakhir kali The Fed memangkas suku bunga sebesar itu adalah pada Maret 2020, saat pandemi Covid-19 menyebabkan resesi mendalam di Amerika Serikat.

Baca Juga: Bank Sentral Rusia Pangkas Suku Bunga untuk Pertama Kalinya Dalam 3 Tahun

The Fed menargetkan inflasi sebesar 1% dan menyesuaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas harga serta lapangan kerja maksimal. Penurunan suku bunga yang terlalu cepat berisiko memicu inflasi, sementara mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi.

Desakan Trump muncul setelah data terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS melambat pada Mei, namun tetap lebih baik dari perkiraan. Tingkat pengangguran tercatat stabil di angka 4,2%. Gedung Putih dalam pernyataannya menyebut ekonomi AS masih berkembang pesat, dengan kenaikan lapangan kerja, upah, dan inflasi yang terkendali.

Di sisi lain, pejabat The Fed menilai pasar tenaga kerja masih stabil, sehingga mereka memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan. Inflasi yang masih di atas target menjadi alasan utama kehati-hatian bank sentral dalam mengambil keputusan. Dalam pesan terbarunya, Trump menuding Powell telah merugikan negara dengan mempertahankan suku bunga tinggi, yang menurutnya turut meningkatkan beban pinjaman pemerintah federal.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!