Trump Desak The Fed Pangkas Bunga Acuan 1%, Sebut Powell Rugikan Negara
Minggu, 08 Juni 2025 - 07:32 WIB
loading...
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mendesak Gubernur The Fed Jerome Powell menurunkan suku buna acuan. FOTO/AP
A
A
A
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mendesak Federal Reserve untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 1%. Desakan ini disampaikan Trump melalui unggahan di platform media sosial Truth Social, seperti dikutip dari Bloomberg pada Minggu (8/6).
Trump menilai langkah Federal Reserve yang dipimpin Jerome Powell terlalu lambat dalam merespons kondisi ekonomi. "Terlambat di The Fed adalah bencana!" tulis Trump, menggunakan julukan yang mengejek untuk Powell. "Terlepas dari dia, negara kita baik-baik saja. Raih poin penuh, bahan bakar roket!"
Baca Juga: Trump Maki-maki Gubernur The Fed, Sebut Jerome Powell Tolol
Permintaan Trump agar The Fed memangkas suku bunga sebesar 1% penuh dinilai tidak lazim. Namun, seruan agar bank sentral menurunkan suku bunga bukan hal baru dari Trump. Sejak menunjuk Powell sebagai Ketua The Fed pada 2017, Trump kerap mengkritik kebijakan suku bunga yang dianggapnya terlalu tinggi.
Pada pertemuan di Gedung Putih bulan lalu, Trump kembali mendesak Powell untuk segera menurunkan suku bunga. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan mengganti Powell, yang masa jabatannya akan berakhir pada Mei 2026. "Ini akan segera keluar," ujar Trump kepada wartawan di Air Force One, tanpa menyebutkan nama calon pengganti.
Sementara itu, para pejabat Federal Reserve dijadwalkan menggelar pertemuan pada 17-18 Juni di Washington. Sebagian besar analis memperkirakan suku bunga acuan akan tetap dipertahankan, sejalan dengan kebijakan The Fed sepanjang tahun ini.
Banyak pembuat kebijakan memilih menunggu kejelasan lebih lanjut terkait dampak kebijakan perdagangan, imigrasi, dan perpajakan terhadap perekonomian sebelum mengambil langkah perubahan suku bunga. Penurunan suku bunga acuan sebesar 1% dalam satu kali pertemuan sangat jarang terjadi, kecuali di tengah krisis ekonomi atau keuangan. Terakhir kali The Fed memangkas suku bunga sebesar itu adalah pada Maret 2020, saat pandemi Covid-19 menyebabkan resesi mendalam di Amerika Serikat.
Baca Juga: Bank Sentral Rusia Pangkas Suku Bunga untuk Pertama Kalinya Dalam 3 Tahun
The Fed menargetkan inflasi sebesar 1% dan menyesuaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas harga serta lapangan kerja maksimal. Penurunan suku bunga yang terlalu cepat berisiko memicu inflasi, sementara mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi.
Desakan Trump muncul setelah data terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS melambat pada Mei, namun tetap lebih baik dari perkiraan. Tingkat pengangguran tercatat stabil di angka 4,2%. Gedung Putih dalam pernyataannya menyebut ekonomi AS masih berkembang pesat, dengan kenaikan lapangan kerja, upah, dan inflasi yang terkendali.
Di sisi lain, pejabat The Fed menilai pasar tenaga kerja masih stabil, sehingga mereka memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan. Inflasi yang masih di atas target menjadi alasan utama kehati-hatian bank sentral dalam mengambil keputusan. Dalam pesan terbarunya, Trump menuding Powell telah merugikan negara dengan mempertahankan suku bunga tinggi, yang menurutnya turut meningkatkan beban pinjaman pemerintah federal.
Trump menilai langkah Federal Reserve yang dipimpin Jerome Powell terlalu lambat dalam merespons kondisi ekonomi. "Terlambat di The Fed adalah bencana!" tulis Trump, menggunakan julukan yang mengejek untuk Powell. "Terlepas dari dia, negara kita baik-baik saja. Raih poin penuh, bahan bakar roket!"
Baca Juga: Trump Maki-maki Gubernur The Fed, Sebut Jerome Powell Tolol
Permintaan Trump agar The Fed memangkas suku bunga sebesar 1% penuh dinilai tidak lazim. Namun, seruan agar bank sentral menurunkan suku bunga bukan hal baru dari Trump. Sejak menunjuk Powell sebagai Ketua The Fed pada 2017, Trump kerap mengkritik kebijakan suku bunga yang dianggapnya terlalu tinggi.
Pada pertemuan di Gedung Putih bulan lalu, Trump kembali mendesak Powell untuk segera menurunkan suku bunga. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan mengganti Powell, yang masa jabatannya akan berakhir pada Mei 2026. "Ini akan segera keluar," ujar Trump kepada wartawan di Air Force One, tanpa menyebutkan nama calon pengganti.
Sementara itu, para pejabat Federal Reserve dijadwalkan menggelar pertemuan pada 17-18 Juni di Washington. Sebagian besar analis memperkirakan suku bunga acuan akan tetap dipertahankan, sejalan dengan kebijakan The Fed sepanjang tahun ini.
Banyak pembuat kebijakan memilih menunggu kejelasan lebih lanjut terkait dampak kebijakan perdagangan, imigrasi, dan perpajakan terhadap perekonomian sebelum mengambil langkah perubahan suku bunga. Penurunan suku bunga acuan sebesar 1% dalam satu kali pertemuan sangat jarang terjadi, kecuali di tengah krisis ekonomi atau keuangan. Terakhir kali The Fed memangkas suku bunga sebesar itu adalah pada Maret 2020, saat pandemi Covid-19 menyebabkan resesi mendalam di Amerika Serikat.
Baca Juga: Bank Sentral Rusia Pangkas Suku Bunga untuk Pertama Kalinya Dalam 3 Tahun
The Fed menargetkan inflasi sebesar 1% dan menyesuaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas harga serta lapangan kerja maksimal. Penurunan suku bunga yang terlalu cepat berisiko memicu inflasi, sementara mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi.
Desakan Trump muncul setelah data terbaru menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS melambat pada Mei, namun tetap lebih baik dari perkiraan. Tingkat pengangguran tercatat stabil di angka 4,2%. Gedung Putih dalam pernyataannya menyebut ekonomi AS masih berkembang pesat, dengan kenaikan lapangan kerja, upah, dan inflasi yang terkendali.
Di sisi lain, pejabat The Fed menilai pasar tenaga kerja masih stabil, sehingga mereka memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan. Inflasi yang masih di atas target menjadi alasan utama kehati-hatian bank sentral dalam mengambil keputusan. Dalam pesan terbarunya, Trump menuding Powell telah merugikan negara dengan mempertahankan suku bunga tinggi, yang menurutnya turut meningkatkan beban pinjaman pemerintah federal.
(nng)
Lihat Juga :