Garuda Indonesia Tak Usah Ada Staf Ahli, Buang-Buang Duit Saja
Selasa, 08 September 2020 - 14:31 WIB
Keuangan Garuda Indonesia memang tertekan karena pandemi Covid-19. Saat rapat dengan Komisi VI DPR, Garuda Indonesia menyatakan kebutuhan pembiayaan Rp9,5 triliun untuk membiayai operasional. Maskapai pelat merah itu mengharapkan dana talangan dari pemerintah dalam bentuk mandatory convertible bond (MCB) senilai Rp8,5 triliun untuk dapat menjaga likuiditas dan solvabilitas perseroan pada 2020-2023.
Jika, Garuda Indonesia menggunakan staf ahli maksimal lima orang dengan gaji sebesar Rp50 juta, maka akan ada pengeluaran perseroan sebesar Rp250 juta per bulannya. ( Baca juga:Konflik Laut China Selatan, China Utus Menhan Wei Temui Prabowo )
Menurut pakar penerbangan AIAC, Arista Atmadjati, pemberlakuan staf ahli bagi Garuda Indonesia kurang tepat. Itu karena, di dalam internal maskapai telah ada dua unit yang bertugas memberikan masukan kepada direksi. Dua unit itu adalah strategic planning dan risiko manajemen.
Karena itu, Arista menyarankan, sebaiknya manajemen Garuda Indonesia cukup memberdayakan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki perseroan saat ini. Dia bilang, pengangkatan staf ahli hanya akan menambah beban bagi Garuda itu sendiri.
"Garuda enam tahun tak pakai staf ahli, Garuda itu ada unit yang pintar, unit risiko manajemen yang bisa kasih saran. Kedua, unit strategic planning, tugasnya menganalisa market, pergerakan harga, dan risiko mitigasi. Kalau pengangkatan staf ahli, buang-buang ongkos saja," katanya.
Jika, Garuda Indonesia menggunakan staf ahli maksimal lima orang dengan gaji sebesar Rp50 juta, maka akan ada pengeluaran perseroan sebesar Rp250 juta per bulannya. ( Baca juga:Konflik Laut China Selatan, China Utus Menhan Wei Temui Prabowo )
Menurut pakar penerbangan AIAC, Arista Atmadjati, pemberlakuan staf ahli bagi Garuda Indonesia kurang tepat. Itu karena, di dalam internal maskapai telah ada dua unit yang bertugas memberikan masukan kepada direksi. Dua unit itu adalah strategic planning dan risiko manajemen.
Karena itu, Arista menyarankan, sebaiknya manajemen Garuda Indonesia cukup memberdayakan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki perseroan saat ini. Dia bilang, pengangkatan staf ahli hanya akan menambah beban bagi Garuda itu sendiri.
"Garuda enam tahun tak pakai staf ahli, Garuda itu ada unit yang pintar, unit risiko manajemen yang bisa kasih saran. Kedua, unit strategic planning, tugasnya menganalisa market, pergerakan harga, dan risiko mitigasi. Kalau pengangkatan staf ahli, buang-buang ongkos saja," katanya.
(uka)
Lihat Juga :