Pecah Perang Iran vs Israel, Harga Minyak Mentah Bisa Tembus USD90 per Barel
Minggu, 15 Juni 2025 - 07:00 WIB
Risiko kenaikan berikutnya akan tergantung pada sejauh mana respons Iran terhadap serangan Israel terhadap program nuklirnya. Konflik yang lebih luas dengan melibatkan produsen regional atau penutupan Selat Hormuz —dimana sekitar 20% aliran minyak global melalui wilayah ini— dapat mendorong harga naik sebsar 35% dari level saat ini.
“Berdasarkan analisis kami sebelumnya, kami memperkirakan bahwa harga minyak dapat melebihi USD100/barel dalam skenario tail ekstrem dari gangguan yang berkepanjangan,” tulis tim Goldman.
Sebelum serangan Israel, analis JPMorgan telah memprediksi bahwa Brent dapat mencapai posisi USD120 per barel dalam skenario terburuknya. Namun, kedua perusahaan melihat penutupan Hormuz sebagai skenario yang tidak mungkin, dan setiap pergerakan harga naik diperkirakan hanya akan sementara.
“Zona nyaman kami tetap pada harga minyak di kisaran USD60-65, karena kenaikan yang berkelanjutan bisa berdampak parah pada inflasi, membalikkan membaiknya harga konsumen di AS dalam beberapa bulan terakhir,” tulis Natasha Kaneva dari JPMorgan.
Ada risiko menekan permintaan, menjadi faktor pembatas utama. "Masalahnya adalah konsumen tidak benar-benar mampu membayar harga itu. Jadi permintaan akan turun secara signifikan," kata analis energi Hedgeye Risk Management, Fernando Valle, kepada Yahoo Finance.
"Biasanya, tidak butuh waktu lama setelah bentrokan awal ini sebelum semua itu berbalik," sambungnya.
“Berdasarkan analisis kami sebelumnya, kami memperkirakan bahwa harga minyak dapat melebihi USD100/barel dalam skenario tail ekstrem dari gangguan yang berkepanjangan,” tulis tim Goldman.
Sebelum serangan Israel, analis JPMorgan telah memprediksi bahwa Brent dapat mencapai posisi USD120 per barel dalam skenario terburuknya. Namun, kedua perusahaan melihat penutupan Hormuz sebagai skenario yang tidak mungkin, dan setiap pergerakan harga naik diperkirakan hanya akan sementara.
“Zona nyaman kami tetap pada harga minyak di kisaran USD60-65, karena kenaikan yang berkelanjutan bisa berdampak parah pada inflasi, membalikkan membaiknya harga konsumen di AS dalam beberapa bulan terakhir,” tulis Natasha Kaneva dari JPMorgan.
Ada risiko menekan permintaan, menjadi faktor pembatas utama. "Masalahnya adalah konsumen tidak benar-benar mampu membayar harga itu. Jadi permintaan akan turun secara signifikan," kata analis energi Hedgeye Risk Management, Fernando Valle, kepada Yahoo Finance.
"Biasanya, tidak butuh waktu lama setelah bentrokan awal ini sebelum semua itu berbalik," sambungnya.
Lihat Juga :