Harga Minyak Naik Hampir 3% Dihantam Konflik Israel-Iran, Bagaimana Respons AS?
Jum'at, 20 Juni 2025 - 16:17 WIB
Sementara itu Gedung Putih mengatakan pada hari Kamis, bahwa Presiden Donald Trump belum memutuskan apakah AS akan terlibat dalam konflik Israel-Iran, hal ini baru akan ditentukan dalam dua minggu ke depan. Prospek itu membuat harga minyak mentah terus naik, kata Rory Johnston, analis dan pendiri buletin Commodity Context.
"Konsensus (di pasar) semakin terbentuk bahwa kita akan melihat keterlibatan AS dengan cara tertentu," kata Johnston.
Iran adalah produsen ketiga terbesar di antara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Dunia atau OPEC, dengan memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak mentah per hari. Sekitar 18 juta hingga 21 juta barel per hari bergerak melalui Selat Hormuz di sepanjang pantai selatan Iran, dan ada kekhawatiran luas bahwa perang ini dapat mengganggu aliran perdagangan.
Risiko gangguan energi besar-besaran akan meningkat jika Iran merasa terancam secara eksistensial, dan masuknya AS ke dalam konflik dapat memicu serangan langsung terhadap tanker dan infrastruktur energi, kata analis RBC Capital Helima Croft.
Sebelumnya, JP Morgan mengatakan skenario ekstrem, di mana konflik meluas ke wilayah sekitarnya dan termasuk penutupan Selat Hormuz, dapat menyebabkan harga minyak melonjak menjadi USD120 hingga USD130 per barel.
Goldman Sachs juga menerangkan, bahwa premi risiko geopolitik sekitar USD10 per barel ada benarnya, mengingat pasokan Iran yang lebih rendah dan risiko gangguan yang lebih luas dapat mendorong minyak mentah Brent di atas USD90.
"Konsensus (di pasar) semakin terbentuk bahwa kita akan melihat keterlibatan AS dengan cara tertentu," kata Johnston.
Iran adalah produsen ketiga terbesar di antara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Dunia atau OPEC, dengan memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak mentah per hari. Sekitar 18 juta hingga 21 juta barel per hari bergerak melalui Selat Hormuz di sepanjang pantai selatan Iran, dan ada kekhawatiran luas bahwa perang ini dapat mengganggu aliran perdagangan.
Risiko gangguan energi besar-besaran akan meningkat jika Iran merasa terancam secara eksistensial, dan masuknya AS ke dalam konflik dapat memicu serangan langsung terhadap tanker dan infrastruktur energi, kata analis RBC Capital Helima Croft.
Sebelumnya, JP Morgan mengatakan skenario ekstrem, di mana konflik meluas ke wilayah sekitarnya dan termasuk penutupan Selat Hormuz, dapat menyebabkan harga minyak melonjak menjadi USD120 hingga USD130 per barel.
Goldman Sachs juga menerangkan, bahwa premi risiko geopolitik sekitar USD10 per barel ada benarnya, mengingat pasokan Iran yang lebih rendah dan risiko gangguan yang lebih luas dapat mendorong minyak mentah Brent di atas USD90.
Lihat Juga :