Seberapa Penting Selat Hormuz Bagi Stabilitas Ekonomi Global? Ini Analisisnya
Senin, 23 Juni 2025 - 15:28 WIB
Shell juga memperingatkan, bahwa potensi pemblokiran Selat Hormuz dapat memberikan guncangan yang substansial.“Jika arteri (jalur penting perdagangan minyak) itu terblokir, apa pun alasannya. Hal itu memiliki dampak besar pada perdagangan global,” kata Chief Executive Officer, Wael Sawan di Japan Energy Summit & Exhibition di Tokyo.
Hampir semua produsen minyak terbesar di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait, sangat bergantung pada selat ini untuk mengirimkan minyak mereka ke pasar global. Sebagian besar minyak ini (lebih dari 80%) dikirim ke negara-negara Asia yang ekonominya sedang tumbuh pesat, seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan, yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.
Qatar sebagai salah satu eksportir LNG terbesar di dunia, sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz untuk menjangkau pasar internasional.
Selanjutnya ada Pipa UEA yakni pipa yang mengarah ke pelabuhan Fujairah di luar selat, namun kapasitasnya hanya 1,5 juta barel per hari. Jika digabungkan, semua jalur pipa alternatif tidak akan mampu menggantikan volume 21 juta barel/hari yang biasa diangkut oleh kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Ini berarti penutupan Selat Hormuz akan secara efektif menghilangkan sebagian besar pasokan energi dari pasar global.
Inflasi Global yang Tak Terkendali
Pentingnya Selat Hormuz dapat diukur dari beberapa faktor kunci:
1. Titik Sumbat (Chokepoint) Arus Minyak Dunia
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran tersempit, namun paling vital di dunia untuk urusan pengangkutan minyak. Sekitar 21 juta barel minyak per hari melewati selat ini. Jumlah ini setara dengan sekitar 20-22% dari total konsumsi minyak dunia.Hampir semua produsen minyak terbesar di Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait, sangat bergantung pada selat ini untuk mengirimkan minyak mereka ke pasar global. Sebagian besar minyak ini (lebih dari 80%) dikirim ke negara-negara Asia yang ekonominya sedang tumbuh pesat, seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan, yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah.
2. Jalur Krusial Gas Alam Cair (LNG)
Selain minyak, Selat Hormuz juga merupakan jalur utama bagi Gas Alam Cair (LNG). Sekitar 20-25% dari total pasokan LNG global diangkut melalui selat ini.Qatar sebagai salah satu eksportir LNG terbesar di dunia, sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz untuk menjangkau pasar internasional.
3. Alternatif yang Sangat Terbatas
Jika Selat Hormuz ditutup, hanya ada sedikit jalur alternatif, dan kapasitasnya tidak sebanding. Pipa Arab Saudi menjadi salah satunya, dimana pipa itu dapat mengalirkan minyak ke Laut Merah, namun kapasitasnya hanya sekitar 5 juta barel per hari.Selanjutnya ada Pipa UEA yakni pipa yang mengarah ke pelabuhan Fujairah di luar selat, namun kapasitasnya hanya 1,5 juta barel per hari. Jika digabungkan, semua jalur pipa alternatif tidak akan mampu menggantikan volume 21 juta barel/hari yang biasa diangkut oleh kapal tanker melalui Selat Hormuz.
Ini berarti penutupan Selat Hormuz akan secara efektif menghilangkan sebagian besar pasokan energi dari pasar global.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Gangguan serius atau penutupan Selat Hormuz akan memicu efek domino yang menghancurkan stabilitas ekonomi global. Harga minyak mentah bakal meroket tajam, selain itu hilangnya seperlima pasokan minyak dunia secara tiba-tiba akan menyebabkan kepanikan di pasar. Analis memperkirakan harga minyak bisa dengan mudah melonjak hingga dua atau tiga kali lipat dalam waktu singkat.Inflasi Global yang Tak Terkendali
Lihat Juga :