Perluasan Program Makan Bergizi Gratis lewat Pemberdayaan UMKM Pesantren, Dorong Ekonomi Lokal dan Gizi Nasional
Rabu, 09 Juli 2025 - 20:29 WIB
Acara tersebut juga menjadi bagian dari peluncuran program 1.000 SPPG Pesantren yang digagas pemerintah untuk memperkuat ketahanan gizi di lingkungan pesantren seluruh Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar, Kepala BGN Dadan Hindayana, Direktur Utama PIP Ismed Saputra, Pengasuh Ponpes API ASRI KH. M. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta Ketua Komite Percepatan Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia (KPPMRI) Baddrut Tamam, Anggota DPR RI Abdul Halim Iskandar, dan para Pimpinan Pondok Pesantren (Kyai) se-Jawa Tengah turut hadir dalam kegiatan ini. Ismed Saputra juga secara simbolis melakukan peletakan batu pertama pembangunan SPPG di lokasi tersebut.
Josua menegaskan bahwa dampak ekonomi paling nyata dari implementasi program ini, terutama melalui lebih dari 1.000 SPPG yang sudah beroperasi, adalah peningkatan pendapatan dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal, khususnya UMKM.
"UMKM sebagai pemasok bahan pangan lokal seperti sayur, telur, daging, dan buah mendapatkan pasar yang stabil dan pembiayaan yang memadai untuk meningkatkan kapasitas produksi dan distribusi," jelas Josua.
Selain itu, pelibatan tenaga kerja lokal dalam pengelolaan dapur SPPG membuka peluang kerja, terutama bagi ibu-ibu yang sebelumnya tidak bekerja, dengan penghasilan yang kadang melebihi upah minimum kabupaten.
Menurut Josua, program ini tidak hanya memberikan manfaat gizi dan kesehatan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi desa dan pemerataan ekonomi, sekaligus berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan dan stunting secara menyeluruh.
Program 1.000 SPPG pesantren ini diharapkan tidak hanya memberikan pemenuhan gizi secara langsung kepada para santri, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, meningkatkan produktivitas lokal, dan menjadi model kolaborasi lintas sektor yang bisa direplikasi di seluruh pelosok Tanah Air.
Josua menegaskan bahwa dampak ekonomi paling nyata dari implementasi program ini, terutama melalui lebih dari 1.000 SPPG yang sudah beroperasi, adalah peningkatan pendapatan dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal, khususnya UMKM.
"UMKM sebagai pemasok bahan pangan lokal seperti sayur, telur, daging, dan buah mendapatkan pasar yang stabil dan pembiayaan yang memadai untuk meningkatkan kapasitas produksi dan distribusi," jelas Josua.
Selain itu, pelibatan tenaga kerja lokal dalam pengelolaan dapur SPPG membuka peluang kerja, terutama bagi ibu-ibu yang sebelumnya tidak bekerja, dengan penghasilan yang kadang melebihi upah minimum kabupaten.
Menurut Josua, program ini tidak hanya memberikan manfaat gizi dan kesehatan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi desa dan pemerataan ekonomi, sekaligus berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan dan stunting secara menyeluruh.
Program 1.000 SPPG pesantren ini diharapkan tidak hanya memberikan pemenuhan gizi secara langsung kepada para santri, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, meningkatkan produktivitas lokal, dan menjadi model kolaborasi lintas sektor yang bisa direplikasi di seluruh pelosok Tanah Air.
(unt)
Lihat Juga :