Putin Tegaskan Sistem Keuangan Barat Sudah Usang, BRICS Tawarkan Alternatif Baru

Jum'at, 18 Juli 2025 - 07:43 WIB
Negara-negara BRICS, terutama India dan China, telah mulai menerapkan kebijakan dedolarisasi dengan meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral. Bahkan, India sempat dilaporkan melanggar sanksi internasional dengan mengekspor chip komputer senilai ratusan juta dolar ke Rusia melalui jalur tidak resmi di Malaysia.

Selain menghadapi tekanan sanksi, BRICS juga dihadapkan pada ancaman baru dari mantan Presiden AS Donald Trump. Dalam pernyataannya baru-baru ini, Trump menyatakan akan mengenakan tarif tambahan 10% bagi negara-negara yang bersekutu dengan BRICS, yang ia sebut sebagai kelompok dengan kebijakan anti-Amerika.

Trump bahkan memperluas ancamannya ke negara-negara yang dinilai membantu Rusia menghindari sanksi internasional, termasuk China, India, Turki, dan Uni Emirat Arab (UEA). Sikap ini mencerminkan meningkatnya ketegangan ekonomi global yang dipicu oleh rivalitas antara blok Barat dan BRICS.

Dalam KTT BRICS bulan lalu, para pemimpin negara anggota kembali menegaskan komitmen mereka untuk mempercepat pengembangan sistem pembayaran independen serta membentuk "Bank BRICS" sebagai institusi keuangan baru. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap lembaga keuangan global yang berbasis di Barat.

Baca Juga: Rusia Umbar Ancaman Nuklir setelah AS-NATO Hendak Pasok Senjata Canggih ke Ukraina
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!