Fenomena Rojali, Lemahnya Daya Beli dan Bayang-bayang Krisis Ekonomi
Sabtu, 26 Juli 2025 - 18:00 WIB
Ia menjelaskan bahwa tekanan ekonomi yang dialami kelompok menengah disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk inflasi pangan, harga rumah yang tinggi, dan suku bunga yang masih bertahan di level mahal. Di saat bersamaan, pendapatan yang bisa dibelanjakan (disposable income) terus menyusut, terutama akibat cicilan utang.
Bhima menilai, masyarakat kelas menengah kini lebih selektif dalam mengeluarkan uang. Barang kebutuhan pokok menjadi prioritas utama, sementara konsumsi barang sekunder dan tersier semakin ditekan. "Belanja sekarang lebih untuk refreshing daripada kebutuhan nyata," katanya.
Selain tekanan biaya hidup, perubahan perilaku belanja juga dipicu oleh meningkatnya transaksi melalui e-commerce. Banyak konsumen beralih ke toko daring karena tawaran diskon, gratis ongkir, dan fleksibilitas waktu yang lebih menarik dibandingkan pengalaman belanja di mal.
"Barang-barang sekunder kini banyak dibeli lewat platform digital karena lebih murah dan praktis. Ini tentu menggerus trafik pembelian langsung di pusat perbelanjaan," ungkap Bhima.
Dampaknya, banyak mal harus beradaptasi. Tren saat ini menunjukkan pergeseran konsep mal, dari pusat belanja barang menjadi pusat kuliner dan hiburan keluarga. Gerai makanan dan wahana rekreasi kini mendominasi ruang komersial yang sebelumnya diisi toko pakaian atau aksesoris.
Bhima menilai, masyarakat kelas menengah kini lebih selektif dalam mengeluarkan uang. Barang kebutuhan pokok menjadi prioritas utama, sementara konsumsi barang sekunder dan tersier semakin ditekan. "Belanja sekarang lebih untuk refreshing daripada kebutuhan nyata," katanya.
Selain tekanan biaya hidup, perubahan perilaku belanja juga dipicu oleh meningkatnya transaksi melalui e-commerce. Banyak konsumen beralih ke toko daring karena tawaran diskon, gratis ongkir, dan fleksibilitas waktu yang lebih menarik dibandingkan pengalaman belanja di mal.
"Barang-barang sekunder kini banyak dibeli lewat platform digital karena lebih murah dan praktis. Ini tentu menggerus trafik pembelian langsung di pusat perbelanjaan," ungkap Bhima.
Dampaknya, banyak mal harus beradaptasi. Tren saat ini menunjukkan pergeseran konsep mal, dari pusat belanja barang menjadi pusat kuliner dan hiburan keluarga. Gerai makanan dan wahana rekreasi kini mendominasi ruang komersial yang sebelumnya diisi toko pakaian atau aksesoris.
Lihat Juga :