Mengapa Pengeluaran di Bawah Rp20.000 per Hari Tergolong Miskin? Ini Penjelasannya
Senin, 28 Juli 2025 - 09:56 WIB
Penghitungan tersebut dilakukan berdasarkan pengeluaran rumah tangga yang dikumpulkan dalam survei Susenas. Data kemudian dirata-ratakan secara per kapita dan diubah ke format harian guna memudahkan pemahaman masyarakat umum maupun pengambil kebijakan.
Dalam dokumen resminya, BPS menegaskan pengeluaran konsumsi menjadi indikator utama, bukan pendapatan. Konsekuensinya, seseorang dengan penghasilan tinggi tetapi sangat hemat dalam konsumsi tetap bisa masuk kategori miskin apabila pengeluarannya berada di bawah batas garis kemiskinan. Sebaliknya, mereka yang berpendapatan rendah tetapi memiliki pengeluaran di atas ambang batas, tidak termasuk kategori miskin.
BPS juga mempertimbangkan perbedaan karakteristik wilayah dalam menentukan garis kemiskinan. Per Maret 2025, garis kemiskinan untuk wilayah perkotaan tercatat sebesar Rp629.561 per kapita per bulan, sementara di pedesaan sebesar Rp580.349.
Proporsi pengeluaran untuk pangan mencapai 74,58 persen dari total garis kemiskinan. Hal ini menunjukkan betapa dominannya pengeluaran kebutuhan dasar makanan dalam struktur konsumsi masyarakat miskin.
Baca Juga: Angka Kemiskinan Indonesia Turun, Ekonom Ragukan Data BPS
Dalam dokumen resminya, BPS menegaskan pengeluaran konsumsi menjadi indikator utama, bukan pendapatan. Konsekuensinya, seseorang dengan penghasilan tinggi tetapi sangat hemat dalam konsumsi tetap bisa masuk kategori miskin apabila pengeluarannya berada di bawah batas garis kemiskinan. Sebaliknya, mereka yang berpendapatan rendah tetapi memiliki pengeluaran di atas ambang batas, tidak termasuk kategori miskin.
BPS juga mempertimbangkan perbedaan karakteristik wilayah dalam menentukan garis kemiskinan. Per Maret 2025, garis kemiskinan untuk wilayah perkotaan tercatat sebesar Rp629.561 per kapita per bulan, sementara di pedesaan sebesar Rp580.349.
Proporsi pengeluaran untuk pangan mencapai 74,58 persen dari total garis kemiskinan. Hal ini menunjukkan betapa dominannya pengeluaran kebutuhan dasar makanan dalam struktur konsumsi masyarakat miskin.
Baca Juga: Angka Kemiskinan Indonesia Turun, Ekonom Ragukan Data BPS
Lihat Juga :