Untung Rugi Tarif Trump buat Ekonomi AS, Bulan Juni Raup Rp451,2 Triliun
Senin, 11 Agustus 2025 - 22:44 WIB
Namun salah satu dampak mencolok dari perang dagang Donald Trump, sejauh ini adalah meningkatkan impor barang-barang AS. Hal ini disebabkan karena perusahaan-perusahaan AS mengumpulkan pasokan terlebih dulu, sebelum tarif diterapkan untuk menghindari kewajiban membayar pajak tambahan.
Sedangkan ekspor AS hanya mengalami peningkatan yang kecil. Hasil bersihnya adalah bahwa defisit perdagangan AS telah melebar, bukan menurun. Defisit tersebut mencapai rekor USD162 miliar pada Maret 2025, sebelum turun kembali menjadi USD86 miliar pada bulan Juni.
Distorsi yang disebabkan oleh penumpukan tersebut diyakini akan memudar, tetapi dalam jangka panjang banyak ekonom memprediksi bahwa pemerintahan Trump masih akan kesulitan menurunkan defisit perdagangan AS secara keseluruhan.
Hal itu dikarenakan mereka berpendapat, bahwa defisit terutama didorong oleh ketidakseimbangan struktural dalam ekonomi AS - pengeluaran nasional yang terus-menerus melebihi produksi nasional - daripada praktik perdagangan yang tidak adil yang ditujukan kepada Amerika oleh negara lain.
Nilai ekspor China ke AS dalam enam bulan pertama tahun 2025 turun 11% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Sementara itu ekspor China ke beberapa mitra dagangnya yang lain telah meningkat, menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan China telah berhasil menemukan pelanggan di negara lain.
Ekspor China ke India tahun ini meningkat 14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan dengan Uni Eropa dan Inggris, meningkat masing-masing 7% dan 8%. Beberapa yang menarik perhatian adalah peningkatan 13% dalam nilai ekspor China ke negara-negara ASEAN, yang mencakup Vietnam, Thailand, Indonesia, dan Malaysia, selama periode tersebut.
Pemerintahan Trump khawatir tentang kemungkinan perusahaan-perusahaan China berusaha untuk menghindari tarif AS dengan mendirikan operasi di negara-negara Asia Tenggara yang berdekatan - di mana mereka mengekspor barang setengah jadi - dan mengekspor barang jadi ke AS dari sana.
Fenomena 'melompati tarif' ini terjadi ketika Donald Trump memberlakukan tarif pada panel surya China di masa jabatannya yang pertama. Beberapa ekonom berpendapat bahwa peningkatan ekspor China ke negara-negara ASEAN bisa terkait dengan fenomena yang sama.
Sedangkan ekspor AS hanya mengalami peningkatan yang kecil. Hasil bersihnya adalah bahwa defisit perdagangan AS telah melebar, bukan menurun. Defisit tersebut mencapai rekor USD162 miliar pada Maret 2025, sebelum turun kembali menjadi USD86 miliar pada bulan Juni.
Distorsi yang disebabkan oleh penumpukan tersebut diyakini akan memudar, tetapi dalam jangka panjang banyak ekonom memprediksi bahwa pemerintahan Trump masih akan kesulitan menurunkan defisit perdagangan AS secara keseluruhan.
Hal itu dikarenakan mereka berpendapat, bahwa defisit terutama didorong oleh ketidakseimbangan struktural dalam ekonomi AS - pengeluaran nasional yang terus-menerus melebihi produksi nasional - daripada praktik perdagangan yang tidak adil yang ditujukan kepada Amerika oleh negara lain.
Ekspor China ke Amerika Menyusut
Trump menghukum China dengan menerapkan tarif mencapai 145% pada suatu waktu. Namun saat ini tarif tersebut telah turun menjadi 30%, tetapi dampak dari konflik perdagangan tersebut terhadap perdagangan China dengan Amerika tetap signifikan.Nilai ekspor China ke AS dalam enam bulan pertama tahun 2025 turun 11% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024. Sementara itu ekspor China ke beberapa mitra dagangnya yang lain telah meningkat, menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan China telah berhasil menemukan pelanggan di negara lain.
Ekspor China ke India tahun ini meningkat 14% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan dengan Uni Eropa dan Inggris, meningkat masing-masing 7% dan 8%. Beberapa yang menarik perhatian adalah peningkatan 13% dalam nilai ekspor China ke negara-negara ASEAN, yang mencakup Vietnam, Thailand, Indonesia, dan Malaysia, selama periode tersebut.
Pemerintahan Trump khawatir tentang kemungkinan perusahaan-perusahaan China berusaha untuk menghindari tarif AS dengan mendirikan operasi di negara-negara Asia Tenggara yang berdekatan - di mana mereka mengekspor barang setengah jadi - dan mengekspor barang jadi ke AS dari sana.
Fenomena 'melompati tarif' ini terjadi ketika Donald Trump memberlakukan tarif pada panel surya China di masa jabatannya yang pertama. Beberapa ekonom berpendapat bahwa peningkatan ekspor China ke negara-negara ASEAN bisa terkait dengan fenomena yang sama.
Lebih Banyak Kesepakatan Dagang
Beberapa negara telah merespons perang dagang Trump dengan berusaha memperdalam hubungan perdagangan dengan negara lain, alih-alih membangun hambatan mereka sendiri. Inggris dan India telah menandatangani kesepakatan perdagangan yang sudah mereka negosiasikan selama tiga tahun terakhir.Lihat Juga :