Untung Rugi Tarif Trump buat Ekonomi AS, Bulan Juni Raup Rp451,2 Triliun
Senin, 11 Agustus 2025 - 22:44 WIB
Norwegia, Islandia, Swiss, dan Liechtenstein - yang tergabung dalam kelompok yang disebut Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (EFTA) - juga telah menyelesaikan kesepakatan perdagangan baru dengan sejumlah negara Amerika Latin dalam kelompok yang dikenal sebagai Mercosur.
Sementara UE sedang melanjutkan kesepakatan perdagangan baru dengan Indonesia. Lalu ada Kanada yang menjajaki perjanjian perdagangan bebas bersama ASEAN. Beberapa negara juga memanfaatkan perpecahan perdagangan antara AS dan China.
Terpantau China secara tradisional merupakan pengimpor kedelai global yang signifikan dari AS, yang digunakan sebagai pakan bagi 440 juta babi mereka. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Beijing beralih untuk membeli kedelainya dari Brasil, bukan dari Amerika.
Tren tersebut diperdebatkan oleh analis yang dinilai dipercepat akibat dampak dari perang dagang terbaru Donald Trump dan tarif balasan baru Beijing pada impor pertanian dari AS.
Pada bulan Juni 2025, China mengimpor 10,6 juta ton kedelai dari Brasil, tetapi hanya 1,6 juta ton dari AS. Ketika China memberlakukan tarif balasan pada impor kedelai AS di masa jabatan pertama Donald Trump, pemerintahannya merasa perlu untuk langsung memberi kompensasi kepada petani AS dengan subsidi baru.
Penimbunan stok di awal tahun telah membantu pengecer menyerap dampak tarif tanpa perlu menaikkan harga eceran. Namun, para ekonom melihat di data resmi terbaru, ada beberapa tanda bahwa tarif Trump mulai mempengaruhi harga konsumsi di AS.
Barang impor tertentu seperti peralatan rumah tangga besar, komputer, peralatan olahraga, buku, dan mainan menunjukkan peningkatan harga yang signifikan pada bulan Juni.
Baca Juga: Gawat! Amerika Serikat Berada di Tepi Jurang Resesi Ekonomi
Peneliti di Universitas Harvard, yang sedang memeriksa efek dari tarif 2025 secara langsung menggunakan data online dari empat peritel besar AS, telah menemukan bahwa harga barang impor ke AS dan produk domestik yang terkena tarif telah meningkat lebih cepat pada tahun 2025 dibandingkan dengan barang domestik yang tidak terkena tarif.
Sementara UE sedang melanjutkan kesepakatan perdagangan baru dengan Indonesia. Lalu ada Kanada yang menjajaki perjanjian perdagangan bebas bersama ASEAN. Beberapa negara juga memanfaatkan perpecahan perdagangan antara AS dan China.
Terpantau China secara tradisional merupakan pengimpor kedelai global yang signifikan dari AS, yang digunakan sebagai pakan bagi 440 juta babi mereka. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Beijing beralih untuk membeli kedelainya dari Brasil, bukan dari Amerika.
Tren tersebut diperdebatkan oleh analis yang dinilai dipercepat akibat dampak dari perang dagang terbaru Donald Trump dan tarif balasan baru Beijing pada impor pertanian dari AS.
Pada bulan Juni 2025, China mengimpor 10,6 juta ton kedelai dari Brasil, tetapi hanya 1,6 juta ton dari AS. Ketika China memberlakukan tarif balasan pada impor kedelai AS di masa jabatan pertama Donald Trump, pemerintahannya merasa perlu untuk langsung memberi kompensasi kepada petani AS dengan subsidi baru.
Peningkatan Harga Mulai Dirasakan Konsumen AS
Ekonom memperingatkan bahwa tarif Trump pada akhirnya akan mendorong harga-harga di AS meningkat, lantaran membuat barang impor menjadi lebih mahal. Tingkat inflasi resmi AS untuk bulan Juni adalah 2,7%. Angka ini sedikit meningkat dari angka inflasi 2,4% untuk bulan Mei, tetapi masih di bawah tingkat 3% pada bulan Januari.Penimbunan stok di awal tahun telah membantu pengecer menyerap dampak tarif tanpa perlu menaikkan harga eceran. Namun, para ekonom melihat di data resmi terbaru, ada beberapa tanda bahwa tarif Trump mulai mempengaruhi harga konsumsi di AS.
Barang impor tertentu seperti peralatan rumah tangga besar, komputer, peralatan olahraga, buku, dan mainan menunjukkan peningkatan harga yang signifikan pada bulan Juni.
Baca Juga: Gawat! Amerika Serikat Berada di Tepi Jurang Resesi Ekonomi
Peneliti di Universitas Harvard, yang sedang memeriksa efek dari tarif 2025 secara langsung menggunakan data online dari empat peritel besar AS, telah menemukan bahwa harga barang impor ke AS dan produk domestik yang terkena tarif telah meningkat lebih cepat pada tahun 2025 dibandingkan dengan barang domestik yang tidak terkena tarif.
(akr)
Lihat Juga :