Gelombang Baru BRICS, 32 Negara Berebut Kursi Keanggotaan

Selasa, 12 Agustus 2025 - 07:31 WIB
Bergabungnya negara-negara ini dapat memberikan keuntungan strategis bagi BRICS. Misalnya, negara-negara produsen minyak seperti Bahrain dan Kuwait akan memperkuat posisi BRICS dalam sektor energi. Meksiko dapat membuka akses pasar Amerika Latin, sementara Belarus akan membuka jalur strategis di Eropa Timur yang sebelumnya belum terjangkau oleh aliansi.

Baca Juga: Bawa Jet Tempur Siluman F-35, 3 Kapal Induk Unjuk Kekuatan di Laut Filipina Utara

Namun, proses perluasan ini tidak luput dari tantangan internal. Dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Rio 2025, para pemimpin BRICS membahas kriteria keanggotaan baru. Meski demikian, perpecahan internal terlihat, di mana Tiongkok dan Rusia cenderung mendukung perluasan yang cepat, sedangkan Brasil dan India lebih memilih pendekatan yang hati-hati dalam menerima anggota baru.

Tantangan juga datang dari luar, terutama dari negara-negara Barat. Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan, "BRICS sudah mati," dan mengancam akan menaikkan tarif bagi negara-negara BRICS yang mencoba menggerus dominasi dolar AS. Hal ini menunjukkan kekhawatiran Barat terhadap pengaruh BRICS yang semakin besar.

Meski demikian, BRICS terus menarik anggota baru. Bank Pembangunan Baru sebagai salah satu instrumen keuangan utama aliansi telah menyalurkan lebih dari USD32 milar untuk 96 proyek sejak 2016. NDB menyediakan pinjaman infrastruktur dalam mata uang lokal yang mengurangi eksposur negara-negara berkembang terhadap volatilitas dolar AS.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!