Kinerja Kredit Melempem, Sinyal Ekonomi Indonesia Masih Lesu
Sabtu, 23 Agustus 2025 - 19:23 WIB
"Artinya, mesin pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi maupun investasi tidak bekerja optimal, sehingga berpotensi menekan pertumbuhan PDB dalam beberapa kuartal mendatang," jelas Arianto kepada SindoNews, Sabtu (23/8).
Arianto menjelaskan bagi sektor perbankan, perlambatan kredit menunjukkan fungsi intermediasi yang tidak berjalan maksimal. Bank menjadi sulit menyalurkan dana pihak ketiga (DPK) ke sektor produktif, yang berpotensi menekan margin bunga bersih (NIM).
Baca Juga: Prabowo Pamer Ekonomi RI Tumbuh 5,12%, Serap 1,2 Juta Lapangan Kerja
Jika tren ini berlanjut, bank akan semakin bergantung pada pendapatan nonbunga (fee-based income) untuk menopang profitabilitas. Di sisi lain, lemahnya kredit juga dapat meningkatkan risiko kualitas aset, karena ekspansi kredit yang rendah sering kali diiringi oleh meningkatnya risiko gagal bayar di sektor riil.
"Dengan demikian, perlambatan kredit menjadi alarm dini baik bagi otoritas maupun pelaku usaha untuk mencari stimulus baru yang dapat menggerakkan permintaan," pungkas Arianto.
Arianto menjelaskan bagi sektor perbankan, perlambatan kredit menunjukkan fungsi intermediasi yang tidak berjalan maksimal. Bank menjadi sulit menyalurkan dana pihak ketiga (DPK) ke sektor produktif, yang berpotensi menekan margin bunga bersih (NIM).
Baca Juga: Prabowo Pamer Ekonomi RI Tumbuh 5,12%, Serap 1,2 Juta Lapangan Kerja
Jika tren ini berlanjut, bank akan semakin bergantung pada pendapatan nonbunga (fee-based income) untuk menopang profitabilitas. Di sisi lain, lemahnya kredit juga dapat meningkatkan risiko kualitas aset, karena ekspansi kredit yang rendah sering kali diiringi oleh meningkatnya risiko gagal bayar di sektor riil.
"Dengan demikian, perlambatan kredit menjadi alarm dini baik bagi otoritas maupun pelaku usaha untuk mencari stimulus baru yang dapat menggerakkan permintaan," pungkas Arianto.
(nng)
Lihat Juga :