Era Baru Dedolarisasi, China Siapkan Electrodolar Geser Kejayaan Petrodolar

Rabu, 27 Agustus 2025 - 07:34 WIB
Di sisi lain, stagnasi produksi listrik di AS sejak 2005 membuat Negeri Paman Sam tertinggal dalam memanfaatkan lonjakan kebutuhan energi global. Proyek infrastruktur besar, seperti Stargate senilai USD 500 miliar pada masa pemerintahan Donald Trump, sempat terhambat akibat keterbatasan kapasitas jaringan listrik domestik.

China memimpin jauh dalam pengembangan energi terbarukan. Negeri Tirai Bambu itu mengoperasikan reaktor thorium pertama di dunia dan tengah membangun Bendungan Yarlong Tampu Mega di Tibet, yang digadang menjadi pembangkit listrik terbesar sepanjang sejarah. Bendungan ini diperkirakan menghasilkan 300 miliar kilowatt jam listrik per tahun, cukup untuk memenuhi kebutuhan energi seluruh Inggris.

Langkah internasionalisasi yuan lewat proyek energi juga mulai terlihat di berbagai negara. Laos, misalnya, meneken proyek energi bersih senilai USD 1,45 miliar dengan perusahaan China. Transaksi pembayaran proyek tersebut dilakukan langsung dalam yuan, menghapus keharusan konversi ganda melalui USD yang selama ini menguntungkan dolar.

Ghana menjadi contoh lain. Proyek pembangkit listrik tenaga air di Sungai Konguri yang selesai pada 2023 kini memasok sepertiga kebutuhan listrik negara itu. China bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menyediakan pelatihan dan dukungan teknis, mengukuhkan pola kerja sama jangka panjang yang memperkuat penggunaan yuan di berbagai pasar energi global.

Kontrak ekspor listrik jangka panjang dalam denominasi yuan akan menginternasionalisasi mata uang China sekaligus menekan dominasi USD. Dengan jaringan listrik yang luas dan harga yang stabil, sistem ini menciptakan pasar perdagangan energi baru yang lebih terprediksi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!