Tarif 50% Trump ke India Resmi Berlaku, Hukuman atas Pembelian Minyak Rusia

Kamis, 28 Agustus 2025 - 08:49 WIB
Di India, reaksi terhadap kebijakan ini relatif keras. Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menyebut tuntutan AS untuk menghentikan pembelian minyak Rusia sebagai "tidak masuk akal" dan menuding Barat bersikap hipokrit karena Eropa justru berdagang lebih banyak dengan Rusia. Pemerintah India menegaskan tidak akan mengubah kebijakan energinya demi tekanan luar.

Perdana Menteri Narendra Modi mendorong warganya untuk memperkuat konsumsi produk lokal sebagai bentuk ketahanan ekonomi. "Tekanan mungkin meningkat, tetapi kita akan menanggungnya. Mari membeli produk buatan India," ujarnya dikutip dari The Telegraph, Kamis (28/8).

Namun, dampak ekonomi mulai terasa. Federasi Organisasi Ekspor India (FIEO) melaporkan bahwa produsen tekstil dan perhiasan di Tirupur, Delhi, dan Surat menghentikan sebagian produksi karena kehilangan daya saing harga. "Barang-barang India menjadi tidak kompetitif dibandingkan produk dari China, Vietnam, dan negara-negara Asia Tenggara lainnya," kata Presiden FIEO, S.C. Ralhan.

Baca Juga: 8 Efek Mata Uang Baru BRICS terhadap Dollar AS jika Sudah Berlaku

Pasar keuangan India juga tertekan. Indeks acuan BSE Sensex turun 1 persen, atau 849 poin, menjadi 80.876 pada perdagangan Selasa. Para analis memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi India bisa turun di bawah 6%, dari proyeksi 6,5%, jika tarif tinggi ini bertahan lama.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!