Tensi Geopolitik Memanas, Rupiah Tersungkur ke Rp16.415 per Dolar AS

Senin, 15 September 2025 - 15:39 WIB
Situasi geopolitik semakin pelik setelah Moskow mengisyaratkan perundingan gencatan senjata dengan Ukraina terhenti. Sementara itu, Amerika Serikat (AS) berupaya meredakan perang tetapi di sisi lain juga mendorong penerapan tarif perdagangan lebih tinggi terhadap Tiongkok dan India bersama negara-negara G7.

Kebijakan tarif tersebut memperketat akses pembelian minyak Rusia. Washington sebelumnya menetapkan tarif 50 persen terhadap impor minyak Rusia oleh India, yang berpotensi menekan pasokan global dan menjaga harga energi tetap tinggi.

Dari sisi makroekonomi AS, data terbaru memperkuat spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga acuan 25 basis poin pada pekan ini. Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus menunjukkan inflasi masih relatif tinggi, namun laju pertumbuhan ekonomi terlihat melambat.

Indikator ketenagakerjaan juga melemah. Nonfarm Payrolls (NFP) hampir stagnan pada Agustus, sementara klaim pengangguran awal naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Pada saat bersamaan, tekanan harga di tingkat produsen menurun, memberi ruang bagi The Fed untuk mengendurkan kebijakan moneternya.

Dari dalam negeri, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat pada kuartal III 2025. Hal itu dipicu rendahnya belanja pemerintah serta kinerja perdagangan, terutama ekspor bersih, yang mulai menurun setelah sempat melonjak hingga Agustus akibat kebijakan front loading sebelum tarif impor baru AS berlaku.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!