Infrastruktur Industri Jadi Magnet Baru Investor Global
Sabtu, 20 September 2025 - 18:58 WIB
Dari sisi pasar modal, sektor infrastruktur tercatat sebagai salah satu yang diminati investor karena prospek pertumbuhan industri dan kualitas pengelolaan perusahaan. Sub-sektor yang tersedia cukup beragam, mulai dari jalan tol, pelabuhan, telekomunikasi, hingga infrastruktur industri, sehingga menawarkan pilihan investasi yang luas.
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada menilai, meski fundamental perusahaan tetap menjadi faktor utama, pergerakan harga saham juga sangat dipengaruhi sentimen pasar, likuiditas, serta kebijakan pemerintah. “Investor kini lebih selektif terhadap emiten yang punya eksposur pada proyek strategis atau tren baru seperti energi hijau dan digitalisasi,” ujarnya.
Salah satu emiten yang mencuri perhatian adalah PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), yang fokus mengembangkan infrastruktur industri berbasis energi baru terbarukan (EBT). Sejak melantai di BEI, saham CDIA tercatat melesat dari Rp190 menjadi Rp1.500 per lembar.
Reza menjelaskan, lonjakan harga saham CDIA didorong sentimen positif terhadap prospek EBT dan posisi perusahaan tersebut dalam ekosistem Barito Pacific Group yang memiliki lini bisnis terintegrasi, mulai dari energi hingga logistik. “Pendapatan utama CDIA berasal dari penjualan listrik, sejalan dengan fokus pemerintah pada transisi energi,” katanya.
Meski demikian, Reza mengingatkan pentingnya konsistensi manajemen dalam menjaga pertumbuhan kinerja jangka panjang. Stabilitas pengelolaan menjadi kunci agar kepercayaan investor dapat terus terjaga.
Ahmad Heri menilai, kehadiran perusahaan seperti CDIA memperkuat keyakinan investor global terhadap prospek Indonesia. “Sektor ini krusial untuk menopang kegiatan produktif. Kehadiran emiten dengan ekosistem terintegrasi akan meningkatkan daya tarik investasi,” ujarnya.
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada menilai, meski fundamental perusahaan tetap menjadi faktor utama, pergerakan harga saham juga sangat dipengaruhi sentimen pasar, likuiditas, serta kebijakan pemerintah. “Investor kini lebih selektif terhadap emiten yang punya eksposur pada proyek strategis atau tren baru seperti energi hijau dan digitalisasi,” ujarnya.
Salah satu emiten yang mencuri perhatian adalah PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), yang fokus mengembangkan infrastruktur industri berbasis energi baru terbarukan (EBT). Sejak melantai di BEI, saham CDIA tercatat melesat dari Rp190 menjadi Rp1.500 per lembar.
Reza menjelaskan, lonjakan harga saham CDIA didorong sentimen positif terhadap prospek EBT dan posisi perusahaan tersebut dalam ekosistem Barito Pacific Group yang memiliki lini bisnis terintegrasi, mulai dari energi hingga logistik. “Pendapatan utama CDIA berasal dari penjualan listrik, sejalan dengan fokus pemerintah pada transisi energi,” katanya.
Meski demikian, Reza mengingatkan pentingnya konsistensi manajemen dalam menjaga pertumbuhan kinerja jangka panjang. Stabilitas pengelolaan menjadi kunci agar kepercayaan investor dapat terus terjaga.
Ahmad Heri menilai, kehadiran perusahaan seperti CDIA memperkuat keyakinan investor global terhadap prospek Indonesia. “Sektor ini krusial untuk menopang kegiatan produktif. Kehadiran emiten dengan ekosistem terintegrasi akan meningkatkan daya tarik investasi,” ujarnya.
Lihat Juga :