PGE Area Ulubelu Jadi Model Pengelolaan Panas Bumi Berbasis WEF Nexus
Sabtu, 27 September 2025 - 21:20 WIB
Delegasi juga meninjau sejumlah program CSR unggulan. Di KUPS Margo Rukun Bestari (Pekon Ngarip), rombongan melihat inovasi pupuk organik berbahan limbah kulit kopi dan kotoran ternak, serta pemanfaatan limbah filler PLTP untuk hortikultura. Sementara di Kopi Beloe (Pekon Sukamaju), mereka berdialog dengan petani mengenai pengolahan kopi robusta dan potensi bisnis kopi lokal. Kunjungan diakhiri di Ulubelu Triumphant (Pekon Muara Dua), yang membudidayakan melon di greenhouse dengan memanfaatkan sisa energi panas bumi (direct use) dan tenaga surya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari riset bersama untuk memperkuat kapasitas kelembagaan, masyarakat, dan inovasi lokal dalam kerangka WEF Nexus. Model pengelolaan ini diharapkan mendukung agenda Just Energy Transition (JET) dan dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Ulubelu bukan hanya pusat pembangkitan listrik, melainkan juga laboratorium kebijakan energi yang mengintegrasikan pangan, air, dan pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga: PGE Kembangkan Biapong, Peternakan Berbasis Energi Terbarukan di Lahendong
Secara nasional, PGE saat ini mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang 1.932 megawatt (MW). Dari jumlah tersebut, 727 MW dikelola langsung oleh PGE, sementara 1.205 MW lainnya dioperasikan melalui skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas ini menyumbang sekitar 70 persen dari total kapasitas panas bumi terpasang di Indonesia dan berpotensi mengurangi emisi karbon hingga 10 juta ton CO2 per tahun.
Sebagai perusahaan energi hijau kelas dunia, PGE menargetkan pengelolaan potensi panas bumi secara menyeluruh beserta produk turunannya untuk mendukung agenda dekarbonisasi nasional dan global menuju net zero emission 2060. Komitmen tersebut diperkuat dengan rekam jejak keberlanjutan yang solid, antara lain perolehan 18 penghargaan PROPER Emas sejak 2011 hingga 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup atas kepatuhan lingkungan dan keterlibatan ESG.
Kegiatan ini menjadi bagian dari riset bersama untuk memperkuat kapasitas kelembagaan, masyarakat, dan inovasi lokal dalam kerangka WEF Nexus. Model pengelolaan ini diharapkan mendukung agenda Just Energy Transition (JET) dan dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia. Ulubelu bukan hanya pusat pembangkitan listrik, melainkan juga laboratorium kebijakan energi yang mengintegrasikan pangan, air, dan pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga: PGE Kembangkan Biapong, Peternakan Berbasis Energi Terbarukan di Lahendong
Secara nasional, PGE saat ini mengelola 15 wilayah kerja panas bumi dengan kapasitas terpasang 1.932 megawatt (MW). Dari jumlah tersebut, 727 MW dikelola langsung oleh PGE, sementara 1.205 MW lainnya dioperasikan melalui skema Kontrak Operasi Bersama. Kapasitas ini menyumbang sekitar 70 persen dari total kapasitas panas bumi terpasang di Indonesia dan berpotensi mengurangi emisi karbon hingga 10 juta ton CO2 per tahun.
Sebagai perusahaan energi hijau kelas dunia, PGE menargetkan pengelolaan potensi panas bumi secara menyeluruh beserta produk turunannya untuk mendukung agenda dekarbonisasi nasional dan global menuju net zero emission 2060. Komitmen tersebut diperkuat dengan rekam jejak keberlanjutan yang solid, antara lain perolehan 18 penghargaan PROPER Emas sejak 2011 hingga 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup atas kepatuhan lingkungan dan keterlibatan ESG.
(nng)
Lihat Juga :