Akar Kegagalan Startup di Asia Tenggara, Ini Faktornya
Sabtu, 11 Oktober 2025 - 14:15 WIB
Beberapa contoh yang menimpa sejumlah startup ternama di Indonesia adalah TaniHub (agritech), Investree (fintech), dan eFishery (akuakultur). Meski sempat tumbuh cepat dengan dukungan investor kuat, kinerja mereka tersendat oleh celah tata kelola, ekspansi yang sulit dipertahankan, serta guncangan eksternal.
Peristiwa ini menggambarkan bahwa startup yang didanai besar dan sering menjadi sorotan pun bisa goyah dalam waktu singkat jika fondasinya kurang tangguh, entah karena tata kelola yang lemah, model bisnis yang rentan, atau volatilitas pasar.
Contoh di Singapura menunjukkan bahwa disiplin proses bisa menghasilkan arah yang berbeda. Di program CVL, pendanaan tidak dikucurkan sekaligus, melainkan bertahap dan hanya setelah setiap capaian benar-benar tervalidasi.
Mekanisme ini membantu menekan risiko bagi korporasi, memperjelas akuntabilitas tim pendiri, dan menumbuhkan ketahanan jangka panjang. Sejumlah ventura lulusan CVL kemudian memperoleh pendanaan lanjutan dan tumbuh lebih sehat serta dapat memberi acuan yang bisa diterapkan lebih luas untuk menghindari “valley of death”, fase paling rentan dalam perjalanan awal sebuah startup.
Laporan ini ini menegaskan bahwa tata kelola dan disiplin eksekusi merupakan persoalan sistemik yang juga memengaruhi startup berbasis modal ventura di kawasan Asia Tenggara. Baca Juga: PLN Startup Day 2025 Dukungan Kembangkan Startup Greentech Indonesia
Lebih lanjut, Sebastian Mueller, Founding Partner MING Labs mengatakan, “Ketahanan lahir dari struktur, bukan sekadar hype. Melalui pendekatan governance-first, pendanaan yang disiplin, dan keselarasan di struktur pendiri, kita bisa memperpendek Valley of Death baik untuk ventura korporat maupun startup VC”.
Peristiwa ini menggambarkan bahwa startup yang didanai besar dan sering menjadi sorotan pun bisa goyah dalam waktu singkat jika fondasinya kurang tangguh, entah karena tata kelola yang lemah, model bisnis yang rentan, atau volatilitas pasar.
Contoh di Singapura menunjukkan bahwa disiplin proses bisa menghasilkan arah yang berbeda. Di program CVL, pendanaan tidak dikucurkan sekaligus, melainkan bertahap dan hanya setelah setiap capaian benar-benar tervalidasi.
Mekanisme ini membantu menekan risiko bagi korporasi, memperjelas akuntabilitas tim pendiri, dan menumbuhkan ketahanan jangka panjang. Sejumlah ventura lulusan CVL kemudian memperoleh pendanaan lanjutan dan tumbuh lebih sehat serta dapat memberi acuan yang bisa diterapkan lebih luas untuk menghindari “valley of death”, fase paling rentan dalam perjalanan awal sebuah startup.
Pelajaran dari The Corporate Venture Valley of Death
Whitepaper The Corporate Venture Valley of Death merangkum lebih dari lima belas wawancara dengan pimpinan corporate venture serta sejumlah studi kasus di Asia Tenggara. Dokumen ini menyoroti tiga penyebab yang paling sering membuat corporate venture kolaps, yakni kekeliruan analisis masalah, ketidakselarasan struktur kepemilikan dan insentif, serta disiplin eksekusi yang lemah.Laporan ini ini menegaskan bahwa tata kelola dan disiplin eksekusi merupakan persoalan sistemik yang juga memengaruhi startup berbasis modal ventura di kawasan Asia Tenggara. Baca Juga: PLN Startup Day 2025 Dukungan Kembangkan Startup Greentech Indonesia
Lebih lanjut, Sebastian Mueller, Founding Partner MING Labs mengatakan, “Ketahanan lahir dari struktur, bukan sekadar hype. Melalui pendekatan governance-first, pendanaan yang disiplin, dan keselarasan di struktur pendiri, kita bisa memperpendek Valley of Death baik untuk ventura korporat maupun startup VC”.
(akr)
Lihat Juga :