IMF Peringatkan Soal Ancaman Utang Global, Efeknya Ngeri
Senin, 13 Oktober 2025 - 10:24 WIB
Dia memperingatkan, bahwa kenaikan utang berisiko meningkatkan biaya, mendorong naiknya suku bunga, membatasi pengeluaran, dan melemahkan kemampuan pemerintah global untuk menahan guncangan. Peringatan ini muncul di tengah melonjaknya utang federal AS, dimana Washington terus mengalami defisit meskipun suku bunga tinggi.
Hingga Oktober, utang AS telah mencapai rekor USD37 triliun, atau sekitar 125% dari PDB, dengan pembayaran bunga kini menjadi salah satu pengeluaran federal terbesar, melampaui belanja sektor pertahanan.
Pemerintahan Presiden Donald Trump melakukan pembelaan bahwa utang tersebut sangat vital untuk pertumbuhan dan program domestik. Sementara itu para kritikus mengingatkan bahwa semua itu berisiko menyebabkan krisis fiskal.
IMF sebelumnya memperingatkan bahwa pengeluaran yang tidak terkendali dapat meningkatkan biaya pinjaman global dan mengguncang pasar negara berkembang.
Komentar Georgieva muncul bersamaan dengan peringatan yang lebih luas tentang ekonomi global, yang menurutnya berjalan “lebih buruk daripada yang kita butuhkan,”. Ia juga menyoroti bahwa pergeseran struktural yang mendalam dalam geopolitik, teknologi, dan demografi telah membuat ketidakpastian ekonomi menjadi “hal baru yang normal”.
Hingga Oktober, utang AS telah mencapai rekor USD37 triliun, atau sekitar 125% dari PDB, dengan pembayaran bunga kini menjadi salah satu pengeluaran federal terbesar, melampaui belanja sektor pertahanan.
Pemerintahan Presiden Donald Trump melakukan pembelaan bahwa utang tersebut sangat vital untuk pertumbuhan dan program domestik. Sementara itu para kritikus mengingatkan bahwa semua itu berisiko menyebabkan krisis fiskal.
IMF sebelumnya memperingatkan bahwa pengeluaran yang tidak terkendali dapat meningkatkan biaya pinjaman global dan mengguncang pasar negara berkembang.
Komentar Georgieva muncul bersamaan dengan peringatan yang lebih luas tentang ekonomi global, yang menurutnya berjalan “lebih buruk daripada yang kita butuhkan,”. Ia juga menyoroti bahwa pergeseran struktural yang mendalam dalam geopolitik, teknologi, dan demografi telah membuat ketidakpastian ekonomi menjadi “hal baru yang normal”.
Lihat Juga :