Mandatori B50 Dinilai Perlu Fleksibilitas demi Keseimbangan Industri Sawit

Jum'at, 17 Oktober 2025 - 22:55 WIB
Kajian juga menyoroti pentingnya peran Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam menjaga keseimbangan alokasi dana antara subsidi biodiesel, program peremajaan sawit rakyat (replanting), dan stabilisasi harga minyak goreng. "Proporsi pendanaan yang terlalu besar untuk subsidi energi dapat mengurangi dukungan bagi peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani," tegasnya.

Guru Besar IPB University, Bayu Krisnamurthi, mengingatkan bahwa rencana penerapan kebijakan biodiesel B50 jika dijalankan tanpa perhitungan matang, bisa menjadi “genta kematian” bagi industri sawit. Menurutnya sejak dua tahun terakhir, Indonesia bukan hanya stagnan produksi, tapi juga investasi karena kebijakan yang tidak menentu.

"Daya saing sawit saat ini sudah sangat menurun dibandingkan minyak nabati lain, banyak negara konsumen yang beralih dari sawit," jelasnya.

Sementara itu, program B50 akan membutuhkan tambahan subsidi hingga Rp46,45 triliun, naik sekitar Rp10–12 triliun dari angka sebelumnya. “Kalau BPDP harus menanggung subsidi sebesar itu, habis uangnya. Program replanting bisa terlupakan,” paparnya.

Program B50 juga akan berdampak langsung pada harga minyak goreng dan tandan buah segar (TBS).
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!