Siap Berlaku 2026, Pertamina Tegaskan BBM Campur Etanol 10% Tak Ganggu Performa Kendaraan
Sabtu, 25 Oktober 2025 - 17:34 WIB
Ia juga meluruskan kesalahpahaman publik terkait alat pengukur oktan Testing Instrument System versi 2 (Oktis 2) yang banyak digunakan masyarakat untuk mengukur nilai RON BBM secara mandiri. Menurutnya, alat tersebut tidak akurat karena tidak menggunakan metode standar internasional ASTM dengan mesin CFR (Corporate Fuel Research).
“Yang diukur Oktis 2 itu bukan RON, tapi sifat dielektrik cairan. Jadi hasilnya tidak bisa dijadikan acuan kualitas BBM,” ucap Tri Yuswi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Hari Budianto menyebut industri otomotif nasional telah siap menyambut kebijakan BBM campuran etanol.
“Sejak 2010, mesin sepeda motor anggota AISI sudah didesain untuk kompatibel hingga E10. Jadi tidak ada masalah teknis dengan rencana mandatori E10,” ujar Hari.
Ia menambahkan, sosialisasi tetap diperlukan agar masyarakat tidak salah paham. “Kekhawatiran muncul karena kurangnya informasi. Perlu disampaikan bahwa ini bukan ‘oplosan’, tapi program energi hijau yang dirancang pemerintah dan industri secara serius,” katanya.
“Ini peluang besar untuk menciptakan multiplier effect di sektor pertanian, industri kimia, dan energi terbarukan. Saat ini kapasitas produksi etanol domestik baru sekitar 350 ribu kiloliter per tahun, jadi ada ruang pertumbuhan besar,” kata Ega.
Pertamina juga telah menyiapkan riset dan formula aditif khusus untuk menjaga kualitas BBM campuran etanol agar tidak menimbulkan korosi maupun penurunan performa mesin. “Aditif ini berfungsi sebagai corrosion inhibitor, demulsifier, dan performance improver, untuk memastikan bahan bakar tetap optimal,” ucap Ega.
“Yang diukur Oktis 2 itu bukan RON, tapi sifat dielektrik cairan. Jadi hasilnya tidak bisa dijadikan acuan kualitas BBM,” ucap Tri Yuswi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Hari Budianto menyebut industri otomotif nasional telah siap menyambut kebijakan BBM campuran etanol.
“Sejak 2010, mesin sepeda motor anggota AISI sudah didesain untuk kompatibel hingga E10. Jadi tidak ada masalah teknis dengan rencana mandatori E10,” ujar Hari.
Ia menambahkan, sosialisasi tetap diperlukan agar masyarakat tidak salah paham. “Kekhawatiran muncul karena kurangnya informasi. Perlu disampaikan bahwa ini bukan ‘oplosan’, tapi program energi hijau yang dirancang pemerintah dan industri secara serius,” katanya.
Dorong Ekonomi dan Ketahanan Energi
Mandatori E10 dinilai akan mendorong tumbuhnya industri bioenergi nasional. Dengan konsumsi bensin nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun, kebutuhan etanol akan mencapai 3,9 juta kiloliter jika mandatori E10 diterapkan penuh.“Ini peluang besar untuk menciptakan multiplier effect di sektor pertanian, industri kimia, dan energi terbarukan. Saat ini kapasitas produksi etanol domestik baru sekitar 350 ribu kiloliter per tahun, jadi ada ruang pertumbuhan besar,” kata Ega.
Pertamina juga telah menyiapkan riset dan formula aditif khusus untuk menjaga kualitas BBM campuran etanol agar tidak menimbulkan korosi maupun penurunan performa mesin. “Aditif ini berfungsi sebagai corrosion inhibitor, demulsifier, dan performance improver, untuk memastikan bahan bakar tetap optimal,” ucap Ega.
Lihat Juga :