3 Proyek Kereta Cepat Termahal di Dunia, Whoosh Tak Masuk Hitungan

Selasa, 28 Oktober 2025 - 18:27 WIB

Berikut 3 proyek kereta api cepat termahal di dunia:

3. Jalur Kereta Cepat Shanghai-Chongqing-Chengdu, China: USD77 miliar

China pada tahun 2016 mengumumkan rencana pengembangan jaringan kereta cepat lewat program baru yang disebut Eight Vertical and Eight Horizontal. Seperti yang mungkin bisa Anda tebak dari namanya, jalur-jalur baru atau yang diperluas ini mencakup 16 koneksi kereta bagian utara-selatan dan timur-barat dengan tujuan menciptakan total jaringan sepanjang 23.600 mil (38.000 km) pada tahun 2025.

Salah satu proyek ini adalah koridor Shanghai-Chongqing-Chengdu sepanjang 1.300 mil (2.100 km), yang sejajar dengan jalur timur ke barat yang sudah ada tetapi akan menawarkan perjalanan kereta jauh lebih cepat. Dengan kecepatan mencapai 217 mil per jam (350 km/jam), perjalanan antara Shanghai dan Chongqing akan dipangkas dari 10 jam 42 menit menjadi lima jam 48 menit.

Proyek ini dibagi menjadi beberapa bagian yang pembangunannya sebagian besar sedang berjalan. Konstruksi dimulai pada bagian Hefei-Wuhan dan Yichang-Fuling pada tahun 2024.



Menurut laporan media lokal, kedua proyek tersebut mempekerjakan lebih dari 6.000 pekerja pada kedua jalur, yang memerlukan pembangunan jembatan sepanjang ratusan mil.

Seluruh proyek Shanghai-Chongqing-Chengdu sepanjang 1.300 mil (2.100 km) diperkirakan akan menelan biaya 560 miliar yuan (USD77 miliar) yang setara Rp1.266 triliun dengan kurs Rp16.449 per USD dan diproyeksikan selesai pada tahun 2030.

2. Kereta Cepat High Speed 2, Inggris: USD84 Miliar

Saat layanan kereta dari utara ke selatan Inggris sudah penuh kapasitas, Departemen Transportasi Inggris mengumumkan proyek High Speed 2 (HS2) pada tahun 2010. Proyek ambisius ini akan hadirkan layanan kereta berkecepatan tinggi baru dari London ke Manchester dan Leeds, melalui Birmingham, yang dibangun dalam tiga tahap.

Pada tahun 2012, diperkirakan bahwa 140 mil (225 km) pertama dari London ke Birmingham – yang akan mencakup empat stasiun baru, 32 mil (51 km) terowongan, dan 179 jembatan – akan menelan biaya USD26 miliar dan dibuka pada tahun 2026.

Namun biaya proyek membengkak di luar kendali sebelum pekerjaan konstruksi secara resmi dimulai pada tahun 2020, tahun yang sama saat tinjauan proyek mengungkapkan bahwa harga jalur kereta baru bisa mencapai hingga USD135 miliar. Inflasi sebagian besar menjadi penyebab lonjakan biaya, tapi ada juga faktor lain yang mempengaruhi seperti biaya pembelian tanah dan pemindahan utilitas.



Ironisnya lagi keterlambatan pemberian kontrak konstruksi harus dibayar mahal, yang disebabkan jeda selama setahun dalam upaya mencoba menemukan cara menghemat waktu dan uang dalam proyek tersebut.

Pada akhirnya, pemerintah membatalkan pembangunan lanjutan fase kedua untuk jalur berbentuk Y pada tahun 2021 dan 2023 dalam upaya untuk mengurangi biaya. Namun, masih belum ada perkiraan yang jelas mengenai total biaya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!