Kerusuhan Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Pasokan Global Terancam

Senin, 12 Januari 2026 - 10:52 WIB
Situasi diperparah dengan aksi mogok pekerja di kilang South Pars, pusat produksi gas alam Iran, pada Rabu. Aksi ini memperluas kelumpuhan ekonomi ke sektor energi yang vital. Tekanan eksternal juga datang dari peringatan Presiden AS Donald Trump, yang mengancam akan memberikan konsekuensi berat kepada Tehran jika demonstran dirugikan.

Selain Iran, pasar juga mempertimbangkan risiko pasokan dari negara produsen minyak lainnya. Rusia dilaporkan meluncurkan rudal hipersonik ke infrastruktur energi Ukraina pada hari yang sama. Sementara itu, ketidakpastian melingkupi aliran minyak dari Venezuela setelah adanya intervensi AS terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.

Di tengah gejolak tersebut, sikap investor terhadap pasar minyak justru cenderung pesimistis. Survei Goldman Sachs terhadap 1.100 klien institusional menemukan 59% di antaranya bersikap pesimis atau agak pesimis, mendekati level terburuk dalam hampir satu dekade.

"Persediaan minyak global meningkat, dan kelebihan pasokan tetap menjadi pendorong utama yang dapat membatasi kenaikan harga," kata analis Haitong Futures. Proyeksi dari Robert Rennie dari Westpac Banking bahkan memperkirakan harga minyak akan berkisar di angka USD50 per barel pada kuartal pertama tahun ini.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!