Rupiah Babak Belur, Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp16.855 per Dolar AS
Senin, 12 Januari 2026 - 17:42 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin (12/1/2026), turun 36 poin atau sekitar 0,21% ke level Rp16.855 per dolar AS. Foto/Dok
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin (12/1/2026), turun 36 poin atau sekitar 0,21% ke level Rp16.855 per dolar AS. Pengamat pasar uang , Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal.
Ia menerangkan, pasar memantau meningkatnya gejolak di Iran, di mana kerusuhan yang terkait dengan protes anti-pemerintah telah menewaskan lebih dari 500 orang, menurut laporan. Baca Juga: Rupiah Ambruk ke Rp16.740 per USD usai Maduro Ditangkap AS
"Ketegangan meningkat setelah Teheran memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump campur tangan atas nama para pengunjuk rasa, meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Selain itu, ketidakpastian politik di Washington setelah Departemen Kehakiman AS mengancam Federal Reserve dengan kemungkinan dakwaan pidana. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell mengatakan, bank sentral telah menerima panggilan pengadilan dari dewan juri terkait kesaksiannya di Senat, sebuah langkah yang telah mengguncang pasar dan menghidupkan kembali kekhawatiran tentang independensi bank sentral.
Ia menerangkan, pasar memantau meningkatnya gejolak di Iran, di mana kerusuhan yang terkait dengan protes anti-pemerintah telah menewaskan lebih dari 500 orang, menurut laporan. Baca Juga: Rupiah Ambruk ke Rp16.740 per USD usai Maduro Ditangkap AS
"Ketegangan meningkat setelah Teheran memperingatkan bahwa mereka dapat menargetkan pangkalan militer AS jika Presiden Donald Trump campur tangan atas nama para pengunjuk rasa, meningkatkan kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Selain itu, ketidakpastian politik di Washington setelah Departemen Kehakiman AS mengancam Federal Reserve dengan kemungkinan dakwaan pidana. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell mengatakan, bank sentral telah menerima panggilan pengadilan dari dewan juri terkait kesaksiannya di Senat, sebuah langkah yang telah mengguncang pasar dan menghidupkan kembali kekhawatiran tentang independensi bank sentral.
Lihat Juga :