Diguncang Krisis Iran, Harga Minyak Cetak Rekor Tertinggi dalam Dua Bulan

Rabu, 14 Januari 2026 - 07:53 WIB
Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Senin (12/1) tarif 25% bagi negara mana pun yang masih berbisnis dengan Iran, yang berlaku efektif segera. Trump juga dijadwalkan bertemu dengan penasihat seniornya pada Selasa untuk membahas berbagai opsi kebijakan terkait Iran, termasuk kemungkinan tindakan militer.

Menurut analisis Barclays, kerusuhan di Iran telah menyumbang premi risiko geopolitik sekitar US$3-4 per barel pada harga minyak. Iran memproduksi sekitar 3,3 juta barel per hari, dan setiap gangguan dapat berdampak signifikan terhadap pasokan global.

Venezuela Siap Kembali ke Pasar

Sementara itu, pasar juga mencermati potensi tambahan pasokan dari Venezuela. Setelah tergulingnya Presiden Nicolas Maduro, Trump menyatakan bahwa pemerintah di Caracas siap menyerahkan hingga 50 juta barel minyak kepada AS. Perusahaan komoditas multinasional Trafigura menyatakan kapal pertamanya diperkirakan mulai memuat minyak pada pekan depan setelah pertemuan di Gedung Putih pada Jumat (9/1).

Baca Juga: Kerusuhan Iran Picu Lonjakan Harga Minyak, Pasokan Global Terancam

Goldman Sachs memperkirakan harga minyak berpotensi melemah tahun ini seiring bertambahnya pasokan baru yang dapat menciptakan surplus pasar, meskipun risiko geopolitik dari Rusia, Venezuela, dan Iran masih diharapkan memicu volatilitas.

Ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah Rusia melancarkan serangan ke dua kota terbesar Ukraina pada Selasa dini hari, menewaskan satu orang di Kharkiv. Sementara itu, pemerintahan Trump kembali melancarkan kritik terhadap Federal Reserve, menambah kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS dan ketidakpastian prospek ekonomi serta permintaan minyak ke depan.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!