IMF Ramal Ekonomi RI Mentok 5,1%, Ekonom: Penerimaan Seret, Pengeluaran Jor-joran
Minggu, 25 Januari 2026 - 22:19 WIB
Dari jumlah tersebut, sedikitnya ada 10 K/L yang mendapatkan anggaran paling banyak dalam APBN 2026. Satu di antaranya porsi APBN untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Badan Gizi Nasional (BGN).
"Saya khawatir tahun 2026, 'bensin' pemerintah habis karena penerimaan yang seret, namun pengeluaran jor-joran," kata Huda.
Kondisi fiskal Indonesia yang tercermin dari rincian APBN juga diwarnai rencana tarik utang baru sebesar Rp832,20 triliun demi membiayai target defisit APBN 2026 yang sebesar Rp689,14 triliun.
"Kekhawatiran saya selanjutnya soal defisit fiskal yang melebar bisa membuat ruang fiskal semakin sempit. Hutang bertumpuk dan harus berhutang dahulu sebelum membayar bunga utang," ujar Huda.
Sebelumnya diberitakan, pemerintah optimistis perekonomian nasional bakal dalam prospek pertumbuhan yang positif. Optimisme pemerintah dilatarbelakangi sejumlah parameter yang dianggap baik-baik saja, mulai dari fundamental ekonomi, stabilitas makroekonomi, dan bauran kebijakan yang konsisten menjadi modal utama dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: IMF Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1% di 2026, Ungguli China dan Malaysia
"Saya khawatir tahun 2026, 'bensin' pemerintah habis karena penerimaan yang seret, namun pengeluaran jor-joran," kata Huda.
Kondisi fiskal Indonesia yang tercermin dari rincian APBN juga diwarnai rencana tarik utang baru sebesar Rp832,20 triliun demi membiayai target defisit APBN 2026 yang sebesar Rp689,14 triliun.
"Kekhawatiran saya selanjutnya soal defisit fiskal yang melebar bisa membuat ruang fiskal semakin sempit. Hutang bertumpuk dan harus berhutang dahulu sebelum membayar bunga utang," ujar Huda.
Sebelumnya diberitakan, pemerintah optimistis perekonomian nasional bakal dalam prospek pertumbuhan yang positif. Optimisme pemerintah dilatarbelakangi sejumlah parameter yang dianggap baik-baik saja, mulai dari fundamental ekonomi, stabilitas makroekonomi, dan bauran kebijakan yang konsisten menjadi modal utama dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: IMF Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1% di 2026, Ungguli China dan Malaysia
Lihat Juga :